top of page

Lebih Nyaman Curhat ke AI? Hati-hati, Ini Dampaknya!

  • 30 Jul
  • 3 menit membaca
Seorang wanita sedang curhat ke AI

Sobat Segitiga Merah, pernah merasa ingin “curhat” tapi bingung mau cerita ke siapa? Mau cerita ke teman takut dianggap berlebihan, sementara ke keluarga juga belum tentu terasa nyaman. Di sisi lain, kalau beban itu dipendam sendiri malah jadi tidak tenang.


Seiring perkembangan teknologi, semakin banyak orang mulai mencoba menggunakan teknologi artificial intelligence (AI) untuk “curhat”. Tinggal buka aplikasi AI yang diinginkan, tulis apa yang dirasakan, dan respons pun langsung muncul secara instan. Cara ini terasa praktis, cepat, dan tidak jarang cukup melegakan. Tapi, apakah ini aman untuk kesehatan mental?


Kenapa Curhat ke AI Terasa Lebih Nyaman?

Ada beberapa alasan mengapa curhat ke AI terasa lebih nyaman dibandingkan berbicara dengan orang lain, yaitu:


  1. Tidak merasa dihakimi

    AI tidak akan mengkritik secara langsung atau memberikan reaksi emosional seperti manusia. Hal ini membuat banyak orang merasa lebih bebas untuk mengekspresikan perasaannya.


  2. Bisa diakses kapan saja

    Tidak perlu menunggu waktu yang tepat untuk menghubungi teman atau memastikan jadwal tenaga profesional seperti konselor, dokter, dan psikolog tersedia. Kapan pun merasa membutuhkan, AI selalu ada untuk mendengarkan.


  3. Terasa lebih anonim

    Saat “curhat” ke AI, seseorang bisa merasa lebih aman karena tidak perlu membuka identitas secara langsung. Ini membuat beberapa orang lebih berani untuk jujur tentang perasaannya.


  4. Tidak ingin membebani orang lain

    Dengan “curhat” ke AI, mereka merasa bisa “mengeluarkan isi kepala” tanpa merasa bersalah atau merepotkan orang lain.[1]


Risiko dan Dampak Negatif Curhat ke AI

Meskipun terasa nyaman, curhat ke AI tetap memiliki risiko yang perlu dipahami. Salah satu risikonya adalah saran yang diberikan bisa jadi tidak selalu tepat atau tidak aman.


Menurut penelitian berjudul Regulating AI in Mental Health: Ethics of Care Perspective yang dipublikasikan pada tahun 2024, teknologi AI saat ini masih belum bisa menggantikan peran penting tenaga profesional dalam terapi, terutama dalam hal hubungan antara pasien dan terapis. AI memang “tampak” bisa merespons, tapi belum bisa memahami emosi manusia secara utuh. Selain itu, hal-hal seperti bahasa tubuh atau momen diam dalam sesi terapi juga belum bisa ditangkap oleh AI.[2]


AI juga tidak benar-benar memahami emosi manusia. Walaupun responsnya bisa terasa seperti memiliki empati, AI tidak memiliki perasaan atau pengalaman emosional seperti manusia. Hal ini membuat dukungan yang diberikan bersifat terbatas dan tidak bisa menggantikan hubungan manusia yang nyata.[3]


Risiko psikologis lain yang bisa jadi kontraproduktif adalah AI bisa membuat seseorang merasa selalu benar karena AI cenderung memberikan respons yang mendukung. Dengan begitu pengguna bisa merasa bahwa semua pemikirannya valid tanpa adanya sudut pandang lain. Dalam jangka panjang, hal ini bisa menghambat proses refleksi diri yang sehat.[4]


Sobat Segitiga Merah, jika masalah yang dihadapi terasa berat, mengganggu aktivitas, atau sulit dikendalikan, sebaiknya mulai berbicara dengan orang yang dipercaya, seperti teman, keluarga, atau tenaga profesional seperti konselor, psikolog, dan dokter. Berani mencari bantuan bukan berarti diri kita lemah, namun justru menunjukkan kita memiliki keinginan untuk terus berjuang.


Pada akhirnya, dukungan dari manusia tetap memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan mental yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh teknologi. Oleh karena itu, gunakan AI secara bijak sebagai alat bantu, bukan pengganti hubungan dengan sesama manusia.


Referensi

1. Abd-Alrazaq A, et al. An overview of the features of chatbots in mental health: A scoping review. Int J Med Inform. 2019. Available from: https://eprints.whiterose.ac.uk/id/eprint/151992/1/Abd-alrazaq-2019-AnoverviewofthefeaturesofchatbotsinmentalhealthAscopingreview.pdf

2. Tamar Tavory. Regulating AI in Mental Health: Ethics of Care Perspective. 2024. Available from: https://mental.jmir.org/2024/1/e58493/PDF

3. Psychology Today. Can AI Be Your Therapist? New Research Reveals Major Risks. 2025. Available from: https://www.psychologytoday.com/us/blog/urban-survival/202505/can-ai-be-your-therapist-new-research-reveals-major-risks

4. SCIRP. Psychological implications of AI interaction. Available from: https://www.scirp.org/journal/paperinformation?paperid=136297



bottom of page