Kenali Gejala Stres Agar Tidak Berkepanjangan!


Setiap orang pasti pernah mengalami stres, terlebih di tengah kehidupan masa kini di mana ritme hidup berjalan dengan sangat cepat. Kita bisa mengalami stres kapan saja, baik saat sedang menghadapi tuntutan pekerjaan, menjalani studi, hingga menghadapi konflik dalam hubungan. Stres merupakan pengalaman yang wajar untuk dialami oleh setiap orang. Akan tetapi, stres yang berkepanjangan dapat juga berdampak negatif terhadap kesehatan, baik kesehatan fisik maupun mental.


Salah satu langkah menghadapi stres adalah mengenali gejala dari stres tersebut sejak dini. Mengenali gejala stres menjadi penting mengingat cukup banyak orang yang tidak menyadari bahwa mereka sedang mengalami stres sehingga stres menjadi tidak tertangani dan berkelanjutan. Oleh sebab itu, ada baiknya Geng Sehat mengenal gejala-gejala umum dari stres sehingga dapat terhindar dari dampak buruknya.


Apa itu Stres?

Stres dapat diartikan sebagai reaksi tubuh terhadap suatu situasi berbahaya, baik yang bersifat nyata maupun yang dipersepsikan. Hal ini pada dasarnya merupakan suatu mekanisme pertahanan diri dasar untuk membantu kita terhindar dari sesuatu yang dapat menyakiti diri kita, baik secara fisik maupun emosional. Pada saat seseorang berada dalam situasi yang dianggap sebagai suatu ancaman, maka tubuh akan secara otomatis mengaktifkan respons stres yang sering dikenal dengan sebutan fight or flight response. Sesuai dengan namanya, fight or flight response ini akan membantu kita untuk memutuskan apakah kita akan menghadapi atau malah harus segera meninggalkan situasi tersebut agar tidak mengalami sesuatu yang buruk. Di dalam tubuh, respons ini ditandai dengan adanya aktivasi saraf simpatetik yang berdampak pada peningkatan denyut jantung, kecepatan bernapas, kontraksi otot, peningkatan tekanan darah, dan sebagainya. Contoh sederhana dari fight or flight response ini adalah jika seseorang berhadapan dengan sekumpulan nyamuk yang mengganggu dan berpotensi berbahaya karena bisa menularkan penyakit, maka masih ada kemungkinan tubuh menilai bahwa situasi ini masih bisa diatasi (fight), sehingga aksi yang dilakukan adalah mengambil obat antiserangga dan mengusir nyamuk-nyamuk tersebut. Akan tetapi jika seseorang tidak sengaja merusak suatu sarang lebah yang berisi penuh dengan kawanan lebah yang siap menyengat, maka kemungkinan yang lebih besar adalah tubuh memerintahkan orang tersebut segera pergi (flight) agar tidak tersengat lebah. Dari sini terlihat bahwa pada dasarnya stres merupakan respons yang bersifat protektif jika sesuai porsinya.


Stres merupakan suatu fenomena dan pengalaman yang bersifat individual, karena masing-masing pribadi memiliki perspektif yang berbeda dalam menilai suatu kondisi serta juga memiliki ketahanan yang berbeda-beda untuk menghadapi situasi tersebut. Tubuh kita juga didesain untuk memiliki sistem yang mampu menyeimbangkan kondisi tubuh saat mengalami stres, sebut saja salah satunya sistem parasimpatetik. Sistem ini bertujuan untuk merestorasi kembali kondisi tubuh yang baru saja mengalami stres sehingga kembali rileks dan normal. Idealnya setiap orang memiliki kerja yang seimbang antara sistem simpatetik dan parasimpatetik, namun jika yang terjadi adalah aktivasi respons stres yang terus-menerus, maka seseorang rentan mengalami stres berkepanjangan atau stres kronis, yang berpotensi menimbulkan berbagai gangguan kesehatan.


Apa Saja Gejala Stres yang Mungkin Kita Alami?

Karena sifat dari stres yang sangat individual, maka gejala yang mungkin dialami akan berbeda pula antara satu orang dengan orang lain walaupun mereka menghadapi situasi yang serupa. Stres dapat memengaruhi tidak hanya kondisi tubuh, namun juga pikiran, perasaan, serta perilaku. Gejala yang ditimbulkan juga terkadang rancu dan sulit dibedakan dengan kondisi-kondisi medis lainnya. Di sinilah pentingnya kita berupaya mengenali diri kita sendiri agar mampu mendeteksi saat kita mengalami kondisi stres dan segera menanganinya baik secara mandiri maupun dengan bantuan profesional. Karena jika tidak disadari dan tidak tertangani, maka kesehatan kita menjadi taruhannya.


Manifestasi stres pada kondisi fisik tubuh kerap ditandai dengan beberapa gejala seperti sakit kepala, kaku atau nyeri otot, nyeri dada, jantung berdebar-debar, mulut kering, rasa lelah, penurunan gairah seksual, gangguan saluran cerna, dan gangguan tidur. Manifestasi stres secara emosional dapat ditunjukkan dengan perasaan cemas, sulit rileks, gelisah, demotivasi, sulit fokus, mudah marah, sedih, merasa sendirian, bahkan yang mengarah pada depresi. Sementara itu, dari aspek perilaku stres dapat menimbulkan kecenderungan gangguan makan (makan berlebihan atau tidak mau makan), menggigit kuku, marah meledak-ledak, kecenderungan untuk mengonsumsi alkohol, obat-obatan, atau merokok, menarik diri dari lingkungan, serta malas bergerak.


Mengapa Stres Tidak Boleh Dibiarkan Berkepanjangan?

Seperti yang sudah dibahas di atas, stres pada dasarnya merupakan suatu respons yang wajar dan bahkan bermanfaat bagi kita jika sesuai porsinya. Sayangnya, pola kehidupan di era modern ini membuat orang relatif lebih rentan mengalami stres, sebut saja dari permasalahan klasik seputar pekerjaan dan perekonomian. Terlebih di dalam masa pandemi Covid-19 di mana banyak terjadi pemutusan hubungan kerja, pengangguran, omzet usaha yang menurun drastis, dan lain sebagainya. Apabila orang tidak mulai belajar untuk mengenali dan mengelola stres, dalam jangka panjang dapat timbul berbagai dampak buruk dari stres yang berkepanjangan, antara lain menjadi lebih rentan mengalami penyakit (contoh: tekanan darah tinggi, gangguan irama jantung, infeksi, dsb.), gangguan tidur kronis, disfungsi seksual, obesitas, depresi, gangguan kecemasan, serta juga hilangnya kemampuan untuk mempertahankan hubungan yang sehat dengan orang-orang sekitar. Hal-hal ini tentu akan secara signifikan menurunkan kualitas hidup seseorang.


Bagaimana Cara Mengelola Stres?

Stres merupakan hal yang wajar dialami, namun perlu dikelola supaya tidak sampai berkepanjangan dan menimbulkan konsekuensi buruk bagi kesehatan fisik dan mental kita. Mengenali gejala-gejala stres yang kita alami saat berada dalam kondisi tertentu merupakan langkah awal yang baik, selanjutnya kita bisa mempraktikkan beberapa cara untuk dapat keluar dari kondisi stres. Beberapa tips untuk mengelola stres antara lain adalah belajar berpikir positif, menerima kondisi stres sebagai fase yang wajar untuk dialami, mempelajari berbagai teknik relaksasi (yoga, meditasi, dsb.), berolahraga teratur untuk memastikan tubuh selalu bugar, menjaga pola makan bergizi seimbang, sempatkan menjalani hobi dan bersosialisasi, serta cukup istirahat. Hindari godaan rokok, alkohol, maupun obat-obatan di kala mengalami stres karena hal ini akan memperburuk kondisi tubuh. Berbuat baik kepada diri sendiri dan berbicara dengan seseorang yang dapat kita percaya seperti keluarga dan teman juga dapat membantu mengurangi stres.

Jika tips tersebut sudah dicoba namun dirasa belum membantu, maka jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Semoga Geng Sehat selalu berada dalam kondisi fisik dan mental yang sehat di mana pun berada!


Sumber:

WebMD. Stress Symptoms. Agustus 2019.

American Institute of Stress. Effects of Stress.

Cleveland Clinic. What Happens to Your Body During the Fight or Flight Response? https://health.clevelandclinic.org/what-happens-to-your-body-during-the-fight-or-flight-response/

Mayo Clinic. Stress symptoms: Effects on your body and behavior. https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/stress-management/in-depth/stress-symptoms/art-20050987

Houston Behavioral Healthcare Hospital. The Top 3 Causes of Stress in Today’s World. https://www.houstonbehavioralhealth.com/blog/top-3-causes-of-stress

WHO. Doing What Matters in Times of Stress https://apps.who.int/iris/rest/bitstreams/1276043/retrieve

10 views