top of page

GERD dan Maag: Perbedaan, Penyebab, dan Penanganannya

  • 3 jam yang lalu
  • 3 menit membaca
Sakit gerd dan maag setelah makan

Banyak mengira bahwa GERD dan maag adalah kondisi yang sama karena keduanya sama-sama menimbulkan keluhan di perut atau dada. Padahal, kedua kondisi ini sebenarnya berbeda, mulai dari penyebab sampai cara menanganinya. Memahami perbedaan antara keduanya sangat penting lho, Sobat Segitiga Merah, supaya kita nggak salah langkah dalam mengambil langkah pengobatan.


Apa Itu GERD dan Maag?


Maag adalah istilah umum yang umum digunakan masyarakat untuk menggambarkan gangguan lambung, seperti nyeri atau perih di ulu hati. Dalam dunia medis, kondisi ini sering berkaitan dengan gastritis (peradangan pada lapisan lambung akibat iritasi atau infeksi) atau dispepsia (kumpulan gejala yang berasal dari saluran cerna bagian atas, terutama di area lambung dan sekitarnya, seperti nyeri ulu hati, kembung, begah, dan mual).[1]


Berbeda dengan maag, gastroesophageal reflux disease atau GERD adalah kondisi di mana asam lambung mengalami aliran balik dan naik ke kerongkongan (esofagus), sehingga asam lambung mengiritasi dinding kerongkongan dan menimbulkan keluhan seperti rasa panas dan terbakar di dada (heartburn) dan sendawa (regurgitasi) yang terasa asam atau pahit. GERD dapat terjadi karena gangguan fungsi katup penyekat lambung dan kerongkongan ditambah dengan faktor-faktor lainnya.[2]


Apa Perbedaan GERD dan Maag?


Perbedaan antara GERD dan maag dapat dilihat dari gejala, penyebab, dan cara penanganannya.


Dari segi gejala, maag biasanya menimbulkan rasa nyeri atau perih di perut bagian atas, mual, kembung, dan sensasi cepat kenyang, sedangkan GERD memiliki ciri yang lebih khas berupa sensasi panas di dada (heartburn), rasa asam atau pahit di mulut, serta kadang disertai batuk kronis atau suara serak.[2]


Dari sisi penyebab, maag timbul akibat ketidakseimbangan faktor proteksi saluran cerna dengan faktor yang bersifat agresif pada saluran cerna yang dapat dipicu oleh berbagai hal seperti pola makan yang tidak teratur, konsumsi makanan pedas atau asam, stres berkepanjangan, efek samping obat, serta infeksi. [1]


GERD lebih sering disebabkan oleh melemahnya katup penyekat lambung dan kerongkongan (esofagus), serta faktor lain seperti obesitas, kebiasaan berbaring setelah makan, kebiasaan merokok, atau konsumsi berlebih bahan makanan berkafein dan makanan berlemak.[2]


Dalam hal penanganan, ā€œmaagā€ umumnya ditangani dengan memperbaiki pola makan, menghindari faktor pencetus, serta bila perlu, penggunaan obat sesuai indikasi seperti antasida yang dapat digunakan secara mandiri/swamedikasi). Bila gejala tidak membaik, kita dapat memeriksakan diri ke dokter untuk memungkinkan pemeriksaan lebih lanjut serta pemberian terapi yang sesuai.


Sementara itu, GERD relatif memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif, meliputi perubahan gaya hidup seperti menurunkan berat badan (pada pasien overweight/obesitas), menghindari berbaring segera setelah makan, serta terapi obat oleh dokter untuk mengendalikan produksi asam lambung. Terapi GERD umumnya berlangsung beberapa minggu sampai beberapa bulan untuk pengendalian gejala yang optimal dan mencegah komplikasi.[2]


Kapan Sebaiknya Memeriksakan Diri ke Dokter?


Walaupun keluhan saluran cerna bagian atas seperti maag atau GERD sering dianggap sebagai gangguan kesehatan yang ringan, ada tanda-tanda tertentu yang tidak boleh diabaikan (alarm symptoms). Sobat Segitiga Merah harus segera memeriksakan diri ke dokter jika mengalami nyeri dada yang hebat, kesulitan menelan, muntah terus-menerus, penurunan berat badan tanpa sebab jelas, atau muntah darah. Gejala-gejala ini bisa menandakan kondisi yang lebih serius dan membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.[3]


Jangan ragu juga untuk berkonsultasi dengan dokter apabila mengalami gejala yang berlangsung lama, berulang, atau tidak membaik dengan penanganan secara mandiri. Pemeriksaan oleh dokter penting untuk memastikan diagnosis dan pengobatan yang sesuai. Dengan penanganan yang benar, baik maag maupun GERD dapat dikontrol dengan baik sehingga tidak mengganggu kualitas hidup.


Referensi:


  1. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. Gastritis. Available from: https://www.niddk.nih.gov/health-information/digestive-diseases/gastritis

  2. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. Gastroesophageal Reflux (GER & GERD) in Adults. Available from: https://www.niddk.nih.gov/health-information/digestive-diseases/acid-reflux-ger-gerd-adults

  3. Mayo Clinic. GERD – Symptoms and causes. Available from: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/gerd/symptoms-causes/syc-20361940




bottom of page