Bahaya Pengobatan TBC yang Tidak Tuntas: Risiko Serius yang Harus Diwaspadai
- 5 menit yang lalu
- 2 menit membaca

Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan utamanya menyerang organ paru-paru. Tuberkulosis ditangani dengan pemberian antibiotik yang perlu dikonsumsi dalam jangka waktu tertentu. Akan tetapi, seiring pengobatan berjalan dan gejala dirasakan membaik, sebagian penderita menghentikan pengobatan sebelum waktunya sehingga pengobatan TBC tidak sampai tuntas, tanpa menyadari bahwa hal ini sangat berbahaya. Bagaimana penjelasannya? Simak dalam kelanjutan artikel ini!
Mengapa Pengobatan Tuberkulosis (TBC) Harus Dijalankan Sampai Tuntas?
Bakteri Mycobacterium tuberculosis tergolong jenis bakteri yang kuat dan memiliki kemampuan untuk “bersembunyi” di dalam tubuh, oleh karena itu pengobatan TBC tidak bisa dilakukan setengah-setengah. Meski gejalanya sudah hilang dan tubuh terasa lebih sehat, bakteri Mycobacterium tuberculosis sebenarnya belum tentu sepenuhnya mati.
Pengobatan TBC melibatkan beberapa jenis antibiotik yang bekerja secara sinergis untuk membunuh bakteri secara tuntas dan mencegah terjadinya resistansi (kebal) terhadap obat. Oleh karena itu, pengobatan harus dilakukan selama enam bulan atau lebih agar benar-benar tuntas.
Apa yang Terjadi Jika Pengobatan Tuberkulosis (TBC) Tidak Tuntas?
Disiplin menjalani pengobatan hingga dinyatakan sembuh oleh dokter adalah langkah paling penting untuk melindungi diri dan lingkungan dari penyebaran penyakit TBC. Ketika pengobatan TBC berhenti di tengah jalan, sebagian bakteri dapat bertahan hidup dan menjadi lebih kebal terhadap obat.
Akibatnya, penyakit bisa aktif kembali dan justru lebih sulit disembuhkan, membutuhkan pengobatan yang lebih lama, lebih mahal, dan memiliki efek samping yang relatif lebih berat. Kondisi ini dikenal dengan istilah multidrug-resistant TB (MDR-TB).
Menghentikan pengobatan TBC sebelum waktunya tidak hanya berbahaya bagi diri penderita, tapi juga bagi orang lain di sekitarnya, karena penyakit yang kembali aktif berarti juga lebih mudah menular kepada orang lain. Inilah alasan mengapa dokter selalu menekankan pentingnya meminum obat sesuai jadwal dan tidak berhenti tanpa arahan medis.
Jadi Sobat Segitiga Merah, TBC bukanlah penyakit yang bisa diremehkan atau bisa sembuh dengan sendirinya. Meski gejala sudah membaik, bakteri Mycobacterium tuberculosis bisa tetap bertahan di tubuh dan kembali aktif saat pengobatan belum sepenuhnya tuntas. Oleh karena itu, penting untuk mematuhi jadwal minum obat sesuai anjuran dokter hingga telah dinyatakan benar-benar sembuh.
Menjalani pengobatan hingga tuntas bukan hanya demi kesehatan diri sendiri, tapi juga untuk melindungi keluarga dan orang di sekitar dari risiko tertular penyakit yang memiliki tingkat kematian yang tinggi ini. Disiplin berobat, menjaga pola hidup sehat, serta rutin memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan, adalah langkah-langkah yang penting untuk membantu memutus rantai penyebaran TBC di masyarakat.
Referensi:
Alipanah N, Jarlsberg L, Miller C, Linh NN, Falzon D, Jaramillo E, Nahid P. Adherence interventions and outcomes of tuberculosis treatment: A systematic review and meta-analysis of trials and observational studies. PLoS Med. 2018;15(7):e1002595. DOI:10.1371/journal.pmed.1002595. Dapat diakses melalui: https://journals.plos.org/plosmedicine/article?id=10.1371%2Fjournal.pmed.1002595
WHO. Tuberculosis. Dapat diakses melalui: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/tuberculosis
CDC. Clinical Overview of Tuberculosis Disease. Dapat diakses melalui: https://www.cdc.gov/tb/hcp/clinical-overview/tuberculosis-disease.html
Rodriguez CA, Leavitt SV, Bouton TC, Horsburgh CR, Abel zur Wiesch P, Nichols B, Jenkins HE, White LF. Survival of people with untreated TB: effects of time, geography and setting. Int J Tuberc Lung Dis. 2023 Sep 1;27(9):694-702. doi:10.5588/ijtld.22.0668.
Taylor J, Lisboa Bastos M, Lachapelle-Chisholm S, Mayo NE, Johnston J, Menzies D. Residual respiratory disability after successful treatment of pulmonary tuberculosis: a systematic review and meta-analysis. EClinicalMedicine. 2023;59:101979. doi:10.1016/j.eclinm.2023.101979.
WHO. 2.2 TB mortality. Dapat diakses melalui: https://www.who.int/teams/global-programme-on-tuberculosis-and-lung-health/tb-reports/global-tuberculosis-report-2022/tb-disease-burden/2-2-tb-mortality



