top of page

Memahami Penggunaan Obat Saat Puasa Ramadan

  • 2 hari yang lalu
  • 3 menit membaca
Memahami Penggunaan Obat Saat Puasa Ramadan

Bagi sebagian orang yang sedang menjalani pengobatan tapi juga harus menjalankan ibadah puasa, muncul pertanyaan: Bagaimana penggunaan obat saat puasa? Bagaimana cara mengatur waktunya agar tidak membatalkan puasa sekaligus tetap aman bagi kesehatan? Jangan-jangan, itu juga menjadi pertanyaan Sobat Segitiga Merah.


Secara medis, perubahan pola makan dan waktu tidur selama ramadan dapat memengaruhi kondisi tubuh dan cara kerja obat. Oleh karena itu, pasien dengan penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, asma, atau penyakit jantung sangat dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum menjalani puasa.¹ Dengan perencanaan yang tepat, sebagian besar pasien tetap dapat berpuasa dengan nyaman.


Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Penggunaan Obat Saat Puasa


Penting untuk berdiskusi dengan dokter atau apoteker terkait penggunaan obat selama puasa. Beberapa obat bisa disesuaikan menjadi cukup diminum 1-2 kali sehari pada jeda waktu buka sampai sahur, misalnya dengan mengganti ke sediaan lepas lambat (extended-release).² Penyesuaian ini akan membantu pasien tetap patuh minum obat saat menjalankan ibadah puasa.


Satu hal yang perlu diperhatikan lagi adalah jangan menghentikan obat tanpa anjuran tenaga medis. Menghentikan obat secara mendadak bisa menyebabkan kondisi penyakit memburuk atau memicu timbulnya komplikasi yang berbahaya.


Jenis Penggunaan Obat yang Tidak Membatalkan Puasa


Berdasarkan berbagai panduan medis, terdapat beberapa jenis obat yang penggunaannya tidak membatalkan puasa³:


  • Obat oles seperti salep, krim, dan gel

  • Tetes mata dan tetes telinga

  • Obat kumur (selama tidak tertelan)

  • Inhaler untuk asma

  • Obat yang digunakan melalui vagina atau dubur (supositoria)

  • Pemberian oksigen atau anestesi inhalasi

  • Obat yang diselipkan di bawah lidahĀ 

  • Obat-obat yang disuntikan baik melalui kulit, otot, sendi, dan vena, kecuali pemberian makanan atau cairan melalui intravena


Sobat Segitiga Merah tidak perlu ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan perihal penggunaan obat selama berpuasa.Ā 


Obat yang Diminum dan Waktu Penggunaannya Saat Puasa


Jika Sobat Segitiga Merah harus menggunakan obat yang diminum (per oral), waktu penggunaannya perlu disesuaikan dengan jadwal sahur dan berbuka.


  1. Obat 1 kali sehari (1x1)


    Umumnya dapat diminum saat sahur atau setelah berbuka puasa. Pemilihan waktunya tergantung pada anjuran dokter dan apakah obat tersebut perlu diminum sebelum atau sesudah makan.²


  2. Obat 2 kali sehari (2x1)


    Umumnya diminum saat sahur dan saat berbuka, sehingga jaraknya cukup merata.


  3. Obat 3-4 kali sehari


    Untuk obat dengan frekuensi yang lebih sering, dokter dapat mempertimbangkan penggantian dengan obat lepas lambat (extended-release) yang bekerja panjang atau menyesuaikan jadwal minum obat antara waktu berbuka hingga sahur.¹


    Sebagai contoh, jika biasanya mengonsumsi obat antihipertensi yang 2-3 kali sehari, mungkin Dokter atau Apoteker akan merekomendasikan antihipertensi yang cukup diminum 1 kali sehari.³ Jika penggantian bentuk obat tidak memungkinkan atau tidak tersedia, maka obat yang memerlukan 3-4 kali pemberian per hari umumnya dibagi dengan interval yang relatif merata pada jeda buka sampai sahur.³


  4. Aturan sebelum dan sesudah makan


    • Sebelum makan: dapat dikonsumsi sebelum makan sahur atau sebelum makan berbuka.

    • Sesudah makan: dapat dikonsumsi setelah makan sahur atau berbuka.


Bila obat perlu diminum malam hari setelah makan, pasien dapat mengonsumsi setidaknya makanan ringan agar lambung tidak kosong sebelum minum obat.²


Kesimpulan


Sobat Segitiga Merah, puasa ramadan tetap bisa dijalankan dengan nyaman oleh banyak pasien penyakit kronis, selama ada perencanaan yang baik dan konsultasi medis sebelumnya. Penyesuaian penggunaan obat saat puasa, pemantauan kondisi kesehatan, serta pemahaman mengenai jenis obat yang tidak membatalkan puasa akan membantu menjaga keseimbangan antara ibadah dan kesehatan.¹ Sobat Segitiga Merah tidak perlu ragu untuk berkonsultasi dengan dokter atau apoteker agar puasa tetap lancar dan kondisi tubuh tetap terjaga.


Referensi


  1. International Diabetes Federation. Diabetes and Ramadan: Practical guidelines. Available from: https://idf.org/media/uploads/2024/07/IDF_DaR_Practical_Guidelines_Ramadan.pdfĀ 

  2. Hassanein M, Al-Arouj M, Hamdy O, Bebakar WM, Jabbar A, Al-Madani A, et al. Diabetes and Ramadan: Practical guidelines. BMJ Open Diabetes Res Care. 2017;5(1):e000348.

  3. Penggunaan Obat Saat Puasa. Kemenkes. Sumber: https://upk.kemkes.go.id/new/penggunaan-obat-pada-saat-puasaĀ 







bottom of page