Ini 7 Tips bagi Penderita Diabetes yang Baru Pertama Kali Puasa Ramadan
- 4 hari yang lalu
- 3 menit membaca

Puasa ramadan adalah momen spiritual yang sangat dinantikan bagi orang Muslim, namun menjalani puasa terkadang menimbulkan kekhawatiran bagi mereka yang memiliki penyakit diabetes. Berbagai pertanyaan seperti: “Apakah aman jika penyandang diabetes berpuasa?” “Bagaimana dengan kadar gula darah?” “Bagaimana cara minum obatnya?” kerap muncul. Kabar gembiranya, dengan pemahaman yang tepat dan persiapan yang baik, para penyandang diabetes tetap memiliki harapan untuk bisa berpuasa dengan nyaman.
Hal yang Perlu Dipahami Penderita Diabetes Sebelum Menjalani Puasa
Saat berpuasa, tubuh mengalami perubahan pola metabolisme karena tidak ada asupan makanan dan minuman selama beberapa jam. Dalam kondisi ini, Sobat Segitiga Merah perlu memahami bahwa tubuh akan menggunakan cadangan energi yang tersimpan.
Pada orang yang tidak memiliki diabetes, tubuh dapat menyesuaikan kadar gula darah dengan baik, namun pada penderita diabetes proses ini bisa menjadi lebih kompleks karena adanya gangguan pada produksi atau kerja insulin.[1]
International Diabetes Federation (IDF) menjelaskan bahwa perubahan jadwal makan dan minum selama ramadan dapat memengaruhi kontrol gula darah, sehingga penting untuk menjaga kestabilannya agar terhindar dari komplikasi yang tidak diharapkan, seperti kadar gula darah yang terlalu rendah (hipoglikemia).[1]
Penelitian juga menunjukkan bahwa pola makan terbatas waktu seperti saat ramadan dapat memengaruhi asupan energi, komposisi tubuh, dan metabolisme, oleh karena itu pemantauan dan pengaturan pola makan serta jadwal menggunakan obat menjadi sangat penting bagi penderita diabetes yang berpuasa.[2]
Tantangan yang Mungkin Dirasakan Penderita Diabetes saat Puasa
Ada beberapa tantangan yang mungkin dirasakan orang dengan diabetes saat puasa, di antaranya:
Perubahan pola makan dan jadwal menggunakan obat
Saat puasa ramadan, waktu makan hanya terjadi pada jeda waktu berbuka sampai sahur. Perubahan juga terjadi pada jadwal penggunaan obat. Jika tidak disesuaikan dengan benar, kadar gula darah bisa menjadi tidak stabil selama periode berpuasa.[1] Selain itu, kecenderungan mengonsumsi makanan manis saat berbuka juga dapat menyebabkan lonjakan gula darah.[3]
Risiko gula darah terlalu tinggi atau terlalu rendah
Risiko utama bagi penderita diabetes saat puasa adalah terjadinya kadar gula darah yang terlalu rendah (hipoglikemia) dan kadar gula darah yang terlalu tinggi (hiperglikemia).[1] Hipoglikemia bisa terjadi karena terlalu lama tidak ada asupan makanan atau dosis obat yang tidak disesuaikan, sedangkan hiperglikemia bisa terjadi akibat konsumsi makanan berlebihan saat berbuka.[3] Memahami tanda-tanda hipoglikemia seperti gemetar, lemas, keringat dingin, pusing, atau sangat haus menjadi sangat penting bagi penyandang diabetes yang berpuasa.
7 Tips Puasa Ramadan bagi Penderita Diabetes
Berikut tujuh tips penting yang dapat membantu penderita diabetes menjalani puasa ramadan dengan lebih aman:
Konsultasi dengan dokter sebelum memulai puasa
Penyandang diabetes disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum masa puasa dimulai. IDF menekankan pentingnya penilaian risiko individual sebelum ramadan untuk menentukan tingkat risiko jika menjalankan puasa.[1] Dalam sesi konsultasi tersebut dokter juga akan membantu menyesuaikan dosis dan waktu penggunaan obat.
Jangan melewatkan waktu sahur
Sahur sangat penting untuk menjaga level energi sepanjang hari. Melewatkan sahur meningkatkan risiko hipoglikemia saat berpuasa.[1] Jangan lupa cukupi kebutuhan cairan selama jeda waktu berbuka sampai sahur.
Pilih menu sahur yang membantu gula darah tetap stabil
Pilih makanan tinggi serat seperti sayuran, biji-bijian, serta sumber protein rendah lemak. Makanan ini membantu menjaga rasa kenyang lebih lama dan membantu menjaga kestabilan gula darah.[2]
Batasi makanan manis saat berbuka
Meskipun berbuka dengan makanan atau minuman manis terasa menggoda, konsumsi berlebihan dapat menyebabkan lonjakan gula darah yang berbahaya bagi penderita diabetes. WHO mengingatkan pentingnya tetap membatasi konsumsi gula harian selama ramadan.[3]
Perhatikan waktu dan cara minum obat
Penyesuaian jadwal obat sering kali diperlukan selama ramadan. Modifikasi dosis dan jadwal obat hanya boleh dilakukan oleh dokter.
Pantau kadar gula darah secara berkala
Memeriksa gula darah tidak membatalkan puasa dan sangat dianjurkan bagi penderita diabetes.[1] Pemantauan rutin membantu mendeteksi hipoglikemia atau hiperglikemia lebih awal.
Perhatikan kondisi tubuh dan jangan memaksakan diri
Kesehatan tetap menjadi prioritas utama selama menjalankan ibadah. Jika muncul gejala seperti gemetar, tubuh dingin, sakit kepala berat, lemas ekstrem, atau gula darah terlalu rendah/tinggi, segera batalkan puasa demi keselamatan.[1]
Nah, Sobat Segitiga Merah, menjalani puasa ramadan bagi penderita diabetes memang membutuhkan perhatian ekstra. Kunci utamanya adalah mengenali kondisi dan sinyal-sinyal dari tubuh. Dengan konsultasi medis, pengaturan pola makan dan penggunaan obat yang tepat, serta pemantauan gula darah secara rutin, ibadah puasa tetap dapat dijalani dengan nyaman tanpa merisikokan kesehatan.
Referensi:
International Diabetes Federation. Diabetes and Ramadan: Practical guidelines. Available from: https://idf.org/media/uploads/2024/07/IDF_DaR_Practical_Guidelines_Ramadan.pdf
World Health Organization. Need of watching sugar intake during Ramadan. Available from: https://www.who.int/bangladesh/news/detail/07-06-2018-need-of-watching-sugar-intake-during-ramadan
Osman F, Haldar S, Henry CJ. Effects of time-restricted feeding during Ramadan on dietary intake, body composition and metabolic outcomes. Nutrients. 2020;12(8):2478. doi:10.3390/nu12082478.



