Ayo Cek Mitos dan Fakta Seputar Asam Urat!


Asam urat adalah salah satu parameter pemeriksaan kesehatan yang cukup familiar di kalangan masyarakat, selain gula darah dan kolesterol. Saat mendengar istilah penyakit asam urat, mungkin gambaran yang timbul dalam benak adalah nyeri pada area sendi kaki, kondisi rematik, pantangan terhadap jenis makanan tertentu, dan lain sebagainya. Tapi tahukah Anda, terdapat beberapa mitos seputar penyakit asam urat yang tidak semuanya benar? Supaya tidak terjebak dalam informasi yang menyesatkan, tulisan ini mengajak Anda semua untuk membahas mitos dan fakta seputar asam urat yang penting untuk diketahui. Simak selengkapnya, ya!


MITOS #1: Asam urat adalah zat yang berbahaya jika ditemukan di dalam tubuh

FAKTA:

Asam urat (uric acid) pada dasarnya merupakan senyawa alami yang diproduksi oleh tubuh sebagai hasil akhir dari proses metabolisme purin. Keberadaan asam urat di dalam tubuh adalah hal yang normal selama jumlahnya tidak berlebihan. Akan tetapi, pada beberapa kondisi, kadar asam urat dapat meningkat pada level tertentu yang dapat berpotensi menimbulkan masalah kesehatan. Peningkatan kadar asam urat dikenal juga dengan istilah hiperurisemia, yakni kondisi di mana kadar asam urat lebih tinggi dari batas normal 6,8 mg/dl. Beberapa hal yang dapat meningkatkan kadar asam urat antara lain:

  • Terjadi gangguan pada kemampuan tubuh dalam menyingkirkan kelebihan asam urat. Normalnya, asam urat akan dikeluarkan oleh tubuh melalui urin dengan bantuan organ ginjal. Gangguan fungsi ginjal adalah salah satu penyebab turunnya kemampuan tubuh dalam membuang kelebihan asam urat.

  • Asupan makan tinggi purin dalam porsi yang berlebih. Contoh bahan makanan tinggi purin adalah daging merah, jeroan, minuman beralkohol, dan lain-lain. Bahan makanan ini harus diperhatikan porsi dan jadwalnya dalam pola makan jika seseorang sudah mengalami kondisi hiperurisemia.

  • Mengonsumsi obat atau memiliki jenis penyakit tertentu yang dapat memengaruhi timbulnya asam urat yang berlebih ataupun terhambatnya proses pembuangan asam urat dari dalam tubuh. Contohnya adalah pada kasus penyakit kanker.



Gambar 1. Proses terbentuknya asam urat di dalam tubuh (diadaptasi dari Dalbeth, 2016)


MITOS #2: Obat harus selalu diberikan jika ditemukan kadar asam urat di atas normal

FAKTA:

Apabila kadar asam urat di atas normal, dokter belum tentu akan memberikan obat untuk asam urat.

Rekomendasi pengobatan asam urat (gout) yang dipublikasikan oleh American College of Rheumatology (ACR) pada tahun 2020 tidak merekomendasikan pemberian obat penurun asam urat pada orang yang mengalami peningkatan kadar asam urat (>6,8 mg/dl) tanpa disertai adanya riwayat kekambuhan gejala (flare) berupa nyeri sendi atau ditemukan tophi, yaitu benjolan di bawah kulit pada area persendian yang disebabkan karena adanya penumpukan kristal asam urat. Pada kelompok yang tergolong asimtomatik (tidak bergejala), umumnya akan disarankan pendekatan berupa perubahan gaya hidup terlebih dahulu seperti: mengatur jenis dan jumlah bahan makanan untuk menurunkan jumlah asupan bahan tinggi purin. Akan tetapi, pada kondisi lain seperti dijumpai adanya tophi, sering terjadi kekambuhan (flare), ataupun terdapat penyakit penyerta tertentu, maka terapi dengan obat penurun asam urat atau obat lain untuk menangani gejala dapat diberikan.


MITOS #3: Semua nyeri atau radang pada area sendi disebabkan oleh kelebihan asam urat

FAKTA:

Tidak semua keluhan nyeri atau peradangan yang terjadi pada sendi disebabkan oleh kelebihan asam urat. Kelebihan asam urat adalah salah satu penyebab atau faktor risiko terjadinya radang sendi (arthritis), namun terdapat pula beberapa penyebab lainnya seperti: penyakit osteoarthritis (lebih umum dikenal dengan istilah pengapuran sendi) atau rheumatoid arthritis (disebabkan oleh kondisi autoimun). Radang sendi yang disebabkan oleh penumpukan kristal asam urat dikenal juga dengan istilah gout arthritis atau pirai. Peningkatan kadar asam urat dalam darah dapat menyebabkan terbentuknya kristal monosodium urat (MSU) pada beberapa jaringan, terutama di sekitar persendian dan ginjal. Endapan kristal asam urat dapat terjadi di persendian mana saja pada tubuh, namun yang sering terjadi biasanya di sendi jari tangan dan jari kaki, di mana 50% serangan gout arthritis pertama dilaporkan terjadi pada ibu jari kaki.





Tanda terjadinya peradangan gout akut (flare) berupa bengkak dan kemerahan pada persendian yang mengalami peradangan, misalnya di jari-jari atau lutut. Persendian yang mengalami peradangan tersebut akan terasa nyeri bila disentuh serta sulit digerakkan. Rasa nyeri pada gout umumnya menyerang tiba-tiba, dengan intensitas nyeri yang cukup kuat namun akan mereda seiring waktu dan dapat kambuh kembali. Jika serangan gout ini cukup sering timbul maka disebut sebagai gout kronis. Tidak sedikit pasien gout yang mengalami penurunan kualitas hidup karena terganggu dengan rasa nyeri yang ditimbulkan serta terbentuknya tophi yang dapat mengganggu kerja sendi dan mengakibatkan terbatasnya pergerakan sendi tersebut.





MITOS #4: Pasien asam urat tidak boleh makan seafood

FAKTA:

Pasien asam urat tetap boleh makan seafood, namun dengan porsi yang dibatasi. Penyesuaian pola makan merupakan salah satu bagian dari modifikasi gaya hidup yang penting untuk diupayakan oleh para pasien asam urat. Modifikasi gaya hidup yang lain menurut ACR (2020) mencakup membatasi konsumsi minuman beralkohol, membatasi konsumsi bahan makanan manis yang mengandung sirup fruktosa, dan manajemen berat badan untuk mencapai berat badan ideal. Japanese Guidelines for the Management of Hyperuricemia and Gout merekomendasikan asupan purin sebaiknya tidak melebihi 400 mg per hari. Terdapat berbagai bahan makanan yang diketahui kaya akan kandungan purin, salah satunya adalah bahan makanan laut (seafood) seperti: kerang, udang, dan beberapa jenis ikan. Meskipun demikian bahan makanan ini juga diketahui memiliki banyak kandungan lain yang bermanfaat untuk kesehatan. Oleh karena itu, penting untuk memastikan asupannya tidak berlebihan. Seorang pasien asam urat dapat berkonsultasi dengan ahli gizi untuk membantu mengukur porsi dan variasi makanan yang dapat dikonsumsi sehari-hari.


MITOS #5: Pasien asam urat tidak boleh minum kopi

FAKTA:

Akhir-akhir ini, tren mengonsumsi kopi tampak meningkat di berbagai kalangan masyarakat. Aneka variasi makanan atau minuman berbasis kopi sangat mudah untuk didapatkan. Pro dan kontra mengenai dampak dari konsumsi kopi memang cukup banyak beredar di kalangan masyarakat, termasuk kaitannya dengan kadar asam urat. Faktanya, kopi termasuk salah satu jenis makanan yang kandungan purinnya relatif rendah. Meski terdapat studi yang melaporkan bahwa konsumsi kopi dapat memperparah gejala asam urat, terdapat pula penelitian yang menunjukkan fakta menarik dengan hasil sebaliknya, bahwa mengonsumsi kopi tidak berkaitan dengan perburukan kadar asam urat dalam darah.

Salah studi metaanalisis di Korea yang mengevaluasi dampak konsumsi kopi terhadap kadar asam urat menunjukkan bahwa konsumsi kopi dalam takaran yang sesuai (4-6 cangkir/hari untuk wanita dan 1-3 cangkir/hari untuk pria) dapat membantu menurunkan kadar asam urat dan menurunkan risiko gout arthritis. Walaupun demikian, mekanisme kerja kopi dalam membantu menurunkan kadar asam urat memang masih belum diketahui secara pasti, namun kandungan polifenol dalam kopi diduga memiliki aksi seperti obat penurun asam urat yang dapat menghambat kerja enzim xanthin oxidase sehingga berdampak pada turunnya produksi asam urat. Selain itu, kopi juga diketahui memiliki sifat diuresis yang atau mampu meningkatkan produksi air seni. Efek ini dapat sekaligus membantu membuang kelebihan asam urat dalam darah. Penelitian tersebut menyimpulkan mengonsumsi kopi sesuai takaran dapat membantu mencegah peningkatan kadar asam urat pada individu yang kadar asam urat dalam darahnya masih dalam batas normal.

Walaupun terdapat penelitian yang menunjukkan manfaat kopi pada kadar asam urat, bukan berarti kopi dapat dijadikan sebagai minuman rutin apalagi pengobatan alternatif untuk menurunkan kadar asam urat, ya! Terlebih jika kadar asam urat sudah tergolong tinggi dan bergejala, tentu minum kopi sebanyak-banyaknya pun tidak akan membantu, karena efek penurunan asam urat yang ditimbulkan oleh konsumsi kopi dalam takaran sedang ini relatif sangat kecil bila dibandingkan dengan obat penurun asam urat seperti allopurinol atau febuxostat. Takaran konsumsi kopi juga harus disesuaikan dengan kondisi tubuh secara keseluruhan, bukan hanya berdasarkan kadar asam urat dalam darah. Selain itu, perlu diperhatikan juga bahan apa saja yang ditambahkan pada kopi, seperti gula, susu/creamer, karena komposisi minuman secara keseluruhan akan menentukan manfaat atau risiko kesehatan yang didapatkan.


Referensi:

1. Pedoman diagnosis dan pengelolaan gout. Perhimpunan Reumatologi Indonesia. 2018.

2. Dalbeth N, Merriman TR, Stamp LK. Gout. Lancet 2016;388(10055):2039-52

3. Frank J. What are purines? (cited 5 April 2020).Available from: https://www.arthritis-health.com/types/gout/what-are-purines

4. Patel GK, et al. Ulcerated tophaceous gout. International Wound Journal 2010;7(5):423-27.

5. Jakse B, et al. Urid acids and plant based nutrition. Nutrient 2019;11:1736-41.

6. Coffee consumption may lower blood uric acid levels - The Precursor of Gout. (cited 5 April 2020). Available from: https://www.medscape.com/viewarticle/560638

7. Pham NM, et al. The relation of coffee consumption to serum uric acid in Japanese men and women aged 49076 years. Journal of Nutrition and Metabolism 2010. https://doi.org/10.1155/2010/930757.

8. Park KY, et al. Effects of coffee consumption on serum uric acid: systematic review and meta-analysis. Seminars in Arthritis and Rheumatism 2016. DOI://dx.doi.org/10.1016/j.semarthrit.2016.01.003.

9. FitzGerald JD, et al. 2020 American College of Rheumatology Guideline for the Management of Gout. Arthritis Care & Research 2020;0(0):1-17.


MPL/OGB/006/II/2022

108 views