Waspada Stunting dan Dampak Seriusnya Pada Anak!


Apa itu stunting?


Aspek tumbuh kembang anak merupakan hal mendasar yang perlu mendapatkan perhatian dari setiap orang tua. Idealnya, pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan untuk usianya. Terdapat berbagai parameter yang perlu dipantau seiring tumbuh dan kembang anak, salah satunya adalah kesesuaian pertambahan tinggi badan. Orang tua diharapkan memantau pertambahan tinggi badan anak dan memastikan tinggi badan anak berada pada rentang standar yang sesuai dengan usia. Pertambahan tinggi badan yang tidak sesuai dengan kurva standar (lebih rendah dari 2 simpangan baku) bisa jadi merupakan tanda awal anak mengalami stunting.


Menurut World Health Organization (WHO), stunting merupakan kondisi gangguan tumbuh kembang pada anak yang terjadi sebagai hasil dari asupan nutrisi yang buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai. Sayangnya, sebagian orang masih mengira bahwa perawakan tubuh anak yang pendek merupakan hasil dari pengaruh faktor genetik, sehingga stunting seringkali luput dari perhatian. Padahal terdapat ancaman kesehatan yang lebih serius pada anak-anak yang mengalami stunting di kemudian hari. Konsekuensi stunting antara lain kemampuan berpikir dan performa belajar yang rendah, serta risiko penyakit kronis yang lebih tinggi di kemudian hari. Tak heran, stunting mendapat perhatian serius, baik dari organisasi kesehatan internasional, maupun dari pemerintah Indonesia, mengingat prevalensi stunting di Indonesia tergolong tinggi, yaitu 24,4%. Di awal tahun ini, Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa pemerintah memiliki target untuk menurunkan angka stunting sebesar 3% setiap tahun, menjadi 14% pada 2024 mendatang.


Pentingnya 1.000 hari pertama kehidupan untuk menurunkan risiko stunting


Penyebab utama terjadinya stunting adalah kurangnya asupan gizi yang baik dan berkualitas secara kronis (dalam jangka panjang), termasuk pemberian ASI yang tidak memadai (inadequate breastfeeding), serta kejadian infeksi yang berulang, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan. Periode 1.000 hari pertama kehidupan dimulai dari awal pembuahan, perkembangan janin, hingga anak mencapai usia 2 tahun. Pada periode ini, risiko stunting berkaitan erat dengan status kesehatan dan nutrisi ibu. Janin di dalam kandungan sangat bergantung pada nutrisi yang dikonsumsi oleh ibunya, dan hal ini berlanjut setelah lahir melalui kegiatan menyusui, dilanjutkan dengan pemberian makanan pendamping ASI (MPASI). Kurangnya kesadaran akan pentingnya periode 1.000 hari pertama kehidupan ini dapat memulai siklus kesehatan buruk yang bersifat intergenerasional (intergenerational cycle of poor health), berawal dari bayi perempuan dengan status nutrisi yang buruk (undernourished) saat lahir, mengalami stunting di masa kanak-kanak, hamil di usia remaja, kelelahan (overworked) selama masa kehamilan, melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah, dan tidak dapat menyusui dengan optimal. Oleh karena itu, diperlukan dukungan dari berbagai pihak untuk memastikan terpenuhinya hak setiap anak dalam 1.000 hari pertama kehidupannya.


Selain asupan nutrisi, faktor lain yang tak kalah besar pengaruhnya pada kejadian stunting adalah kejadian infeksi berulang atau penyakit kronis. Masalah ini terjadi terutama pada daerah yang masih memiliki keterbatasan akses terhadap pelayanan kesehatan seperti layanan pemeriksaan kehamilan (antenatal care) dan setelah melahirkan, kurangnya akses terhadap air bersih, sanitasi yang buruk, serta rendahnya kesadaran dan/atau cakupan vaksinasi.


Bagaimana cara menurunkan risiko stunting?


Dalam upaya penanganan stunting, tindakan pencegahan selalu lebih baik, mengingat kondisi stunting bersifat irreversible atau tidak dapat kembali ke kondisi normal bila telah terjadi. Secara umum, hal penting yang perlu diperhatikan dalam pencegahan stunting, yaitu perbaikan pola makan, pola asuh, serta sanitasi yang baik dan akses terhadap air bersih. Pada laporan situasi balita pendek yang dikeluarkan oleh pusat data dan informasi kementrian kesehatan RI, terdapat beberapa cara yang dapat diupayakan untuk menekan angka stunting, terutama dalam periode 1.000 hari pertama kehidupan, antara lain:

  1. Pada ibu hamil: memperbaiki status nutrisi dan kesehatan ibu hamil (contoh: pemberian suplemen zat besi dan makanan tambahan), serta mengoptimalkan akses terhadap pelayanan kesehatan dalam masa kehamilan

  2. Pada saat bayi lahir: persalinan dibantu tenaga kesehatan terlatih di fasilitas kesehatan yang memadai, mengupayakan inisiasi menyusu dini (IMD) dan dilanjutkan dengan periode ASI eksklusif selama 6 bulan (hanya ASI tanpa penambahan bahan makanan atau minuman lain)

  3. Pada bayi usia 6 bulan hingga 2 tahun: ASI dilanjutkan dengan penambahan makanan pendamping ASI dengan komposisi nutrisi yang baik, melengkapi jadwal imunisasi serta program pemberian vitamin (contoh: vitamin A)

  4. Mengoptimalkan peran posyandu dan fasilitas kesehatan lain untuk memantau tumbuh kembang anak

  5. Menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) untuk menekan angka penyakit infeksi di komunitas.


Berdasarkan uraian diatas, stunting ternyata bukan sekedar gambaran fisik berupa perawakan yang tampak pendek, melainkan suatu kondisi yang multifaktorial dan berpotensi membawa dampak serius di kemudian hari. Dibutuhkan peran aktif dari berbagai pihak untuk turut membantu menurunkan kejadian stunting, termasuk dengan saling memberikan edukasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya stunting, sehingga masyarakat dapat mempersiapkan generasi selanjutnya dengan lebih baik.


Referensi:

1. InfoDATIN Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. Situasi Balita Pendek. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2016. (cited 26 Jun 2022). Available from: https://pusdatin.kemkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/situasi-balita-pendek-2016.pdf

2. Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes RI. Cegah Stunting dengan Perbaikan Pola Makan, Pola Asuh, dan Sanitasi. 2018. (cited 26 Jun 2022). Available from: http://www.depkes.go.id/article/view/18040700002/cegah-stunting-dengan-perbaikan-pola-makan-pola-asuh-dan-sanitasi-2-.html

3. Stunting in a nutshell. (cited 26 Jun 2022). Available from: https://www.who.int/news/item/19-11-2015-stunting-in-a-nutshell

4. Ambisi Besar Jokowi: Turunkan Stunting Jadi 14% di 2024. (cited 26 Jun 2022). Available from: https://www.cnbcindonesia.com/news/20220111131755-4-306354/ambisi-besar-jokowi-turunkan-stunting-jadi-14-di-2024

5. Ninditya, Lina dr. Mencegah anak berperawakan pendek. 2016. (cited 26 Jun 2022). Available from: https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/mencegah-anak-berperawakan-pendek



MPL/OGB/024/VI/2022

116 views