Pentingnya Menjaga Kebersihan dan Kesehatan Telinga


Telinga merupakan satu dari lima pancaindra manusia yang berfungsi vital dalam kehidupan sehari-sehari. Telinga memegang peranan penting, baik untuk fungsi pendengaran maupun keseimbangan. Gangguan kesehatan telinga dapat menimbulkan berbagai macam keluhan seperti pendengaran yang berkurang, rasa nyeri, gatal, ataupun gangguan keseimbangan tubuh, oleh karena itu, sangat penting untuk menjaga kebersihan dan kesehatan telinga sehingga dapat berfungsi dengan optimal.


Organ telinga memiliki sistem proteksi tersendiri, di mana secara normal telinga akan memproduksi serumen (earwax) yang berguna untuk melembabkan kulit telinga, mencegah terjadinya infeksi, serta melindungi telinga dari serangga atau air. Serumen memiliki bentuk dan penampakan yang menyerupai kotoran di saluran telinga, sehingga seringkali membuat seseorang merasa khawatir akan kebersihan telinganya. Padahal, serumen mempunyai mekanisme pembersihan otomatis dan akan keluar dengan sendirinya seiring dengan bergeraknya rahang saat mengunyah atau berbicara. Akan tetapi, pada individu serta kondisi tertentu, mekanisme pembersihan ini bisa mengalami gangguan sehingga menyebabkan penumpukan bahkan sumbatan serumen. Apabila hal ini terjadi, penting untuk segera berkonsultasi dengan dokter spesialis telinga hidung dan tenggorokan (THT) untuk mendapatkan perawatan yang sesuai.


Mengapa kita perlu memahami cara yang tepat untuk membersihkan telinga?


Dibandingkan bagian tubuh lainnya, telinga adalah area tubuh yang tergolong sulit untuk dibersihkan. Meski sebagian orang seringkali membersihkan telinganya sendiri, namun cara yang salah justru dapat membuat kotoran telinga semakin masuk ke dalam dan menyebabkan masalah seperti penumpukan serumen. Serumen yang menumpuk akibat cara pembersihan yang tidak tepat atau kondisi lain dapat mengakibatan sumbatan dan gangguan pendengaran, nyeri, tinitus (telinga berdenging), pusing, atau timbulnya bau tidak sedap pada telinga. Cara yang tidak benar juga berisiko merusak bagian organ sensitif dalam telinga, seperti gendang telinga. Lantas bagaimana cara menjaga kebersihan dan kesehatan telinga dengan benar?


Ada beberapa metode untuk membersihkan telinga seperti irigasi telinga, menggunakan agen cerumenolytic yang biasanya berupa sediaan tetes telinga topikal, atau dibersihkan secara manual dengan instrumen tertentu. Metode tersebut umumnya dilakukan oleh dokter umum atau dokter spesialis THT. Meskipun demikian, ada beberapa upaya mandiri yang dapat dilakukan untuk menjaga kebersihan telinga. Berikut penjelasannya:


1. Bersihkan telinga dengan sangat hati-hati

Kotoran telinga atau serumen merupakan sesuatu yang normal dan sangat penting untuk kesehatan telinga. Adanya bulu-bulu halus serta struktur liang telinga yang bersudut mampu menjaga telinga dari masuknya kotoran berlebih. Selain itu terdapat mekanisme pembersihan sendiri melalui gerakan rahang seperti saat mengunyah atau berbicara. Gerakan rahang akan membantu kotoran telinga atau serumen terdorong ke arah bagian terluar dari saluran telinga. Pembersihan dapat dilakukan dengan menyeka sekitar bagian terluar rongga telinga dan daun telinga menggunakan handuk yang lembut dan bersih.


2. Hindari penggunaan cotton bud

Sebagian orang mengganggap bahwa membersihkan telinga dengan cotton bud adalah cara yang baik untuk membersihkan telinga. Faktanya, membersihkan telinga dengan cotton bud merupakan cara yang tidak tepat dan berbahaya. Penggunaan cotton bud justru berpotensi mendorong serumen ke celah sempit pada bagian dalam telinga, tempat di mana seharusnya serumen tidak terbentuk. Akibatnya serumen akan terjebak dan terakumulasi hingga akhirnya menyebabkan sumbatan pada lubang telinga. Sumbatan tersebut akan menghalangi hantaran gelombang suara ke gendang telinga, sehingga pendengaran akan terasa berkurang. Selain itu, dapat muncul gejala akibat sumbatan serumen berupa rasa nyeri pada telinga.


Penggunaan cotton bud yang terlalu dalam dan kurang hati-hati juga dapat menimbulkan cedera seperti pecahnya gendang telinga. Sebuah penelitian pada tahun 2017 mengamati cedera telinga terkait penggunaan cotton bud untuk membersihkan telinga anak-anak. Hasil penelitian menyatakan bahwa sekitar 73% cedera telinga terjadi akibat penggunaan cotton bud untuk membersihkan telinga.


3. Jangan menggunakan benda kecil dan tajam

Selain menghindari penggunaan cotton bud, penting juga untuk tidak menggunakan benda kecil dan tajam, seperti jepit rambut atau pinset untuk membersihkan telinga. Benda-benda ini dapat melukai saluran telinga atau gendang telinga.


4. Konsultasikan ke dokter

Seperti sudah disebutkan sebelumnya, kotoran telinga sebenarnya bisa hilang dengan sendirinya. Akan tetapi, seseorang yang mengalami masalah penumpukan kotoran telinga yang menghalangi pendengaran atau menyebabkan gejala yang menganggu seperti nyeri, tinitus atau keluhan lain, sebaiknya tidak ragu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis THT. Dokter akan memeriksa dan memberikan penanganan yang dibutuhkan.

5. Hindari penggunaan ear candle

Ear candle beberapa tahun lalu sempat menjadi pilihan untuk membersihkan telinga. Namun, sampai saat ini ternyata efektivitas dan keamanan penggunaan ear candle dalam membersihkan telinga belum terbukti secara klinis. Oleh karena itu, penggunaannya tidak direkomendasikan, karena selain belum terbukti efektif, juga dapat berisiko menimbulkan luka bakar, baik di bagian luar maupun di bagian dalam telinga.


Bagaimana tips menjaga kondisi telinga tetap sehat?


Selain menjaga telinga tetap bersih, beberapa tips berikut dapat dilakukan untuk melindungi telinga sehingga fungsi pendengaran bertahan dengan baik:


  • Hindari memasukkan benda kecil ke dalam telinga

  • Memasukkan benda kecil ke dalam saluran telinga dapat menyebabkan cedera pada saluran atau gendang telinga.

  • Batasi paparan terhadap suara keras

  • Telinga manusia memiliki batas toleransi terhadap kenyaringan suara. Paparan suara keras yang terlalu sering dapat menurunkan kemampuan pendengaran. Kenakan pelindung kepala atau penyumbat telinga saat berada di dekat sumber suara yang terlalu keras.

  • Beristirahatlah secara berkala dari penggunaan headphone atau earphone, serta atur suara atau musik agar tidak terlalu keras

  • Jangan terlalu sering menggunakan headphone atau earphone untuk memberi waktu telinga beristirahat. Selain itu, gunakan volume cukup rendah sehingga tidak ada orang lain yang dapat mendengar suara atau musik dari luar. Sebagai panduan, kita bisa menggunakan aturan 60/60, yang artinya batas volume musik/suara tidak lebih dari 60 persen dari volume maksimum dan digunakan tidak lebih dari 60 menit sehari.

  • Menjaga telinga tetap kering

  • Telinga yang basah atau lembab secara berlebihan dapat memicu pertumbuhan bakteri di dalam saluran telinga sehingga dapat menimbulkan infeksi. Bagi mereka yang sering melakukan olah raga renang, sebaiknya menggunakan penyumbat telinga untuk mencegah air masuk ke dalam telinga. Jika merasa ada air yang masuk telinga, keringkan telinga setelah berenang untuk mencegah masalah kesehatan “telinga perenang” atau otitis eksterna. Gunakan kain atau handuk kering untuk menyeka bagian luar telinga, dan miringkan kepala untuk membantu mengeluarkan air.

  • Perhatikan setiap perubahan pendengaran atau gangguan pada telinga, dan segera berkonsultasi ke dokter apabila diperlukan

  • Apabila merasakan sakit yang tiba-tiba, kehilangan pendengaran, atau mengalami cedera telinga, sebaiknya segera menghubungi dokter. Demikian juga bila terjadi perubahan pada telinga, misalnya telinga berdenging yang terjadi setelah penggunaan obat tertentu. Hindari melakukan pengobatan mandiri (swamedikasi) untuk telinga tanpa petunjuk dokter.

  • Lakukan pemeriksaan telinga secara rutin.

  • Memeriksakan telinga ke dokter secara berkala merupakan hal yang penting untuk memastikan keadaan telinga sehat setiap waktu, terutama seiring pertambahan usia. Gangguan pendengaran biasanya berkembang secara lambat, sehingga dengan pemeriksaan rutin, dokter dapat mendiagnosis lebih awal dan mengambil tindakan yang diperlukan.


Referensi:

1. Pentingnya menjaga kesehatan telinga. RS Indriati. 2018. (cited 07 Jun 2022). Available from: https://rsindriati.com/v2/file/artikel/pdf/6.pdf

2. Earwax buildup & blockage. (cited 07 Jun 2022). Available from: https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/14428-ear-wax-buildup--blockage

3. Michaudet C & Malaty J. Cerumen impaction: diagnosis and management. Am Fam Physician. 2018;98(8):525-9

4. Tips for cleaning your ears safely. (cited 07 Jun 2022). Available from: https://www.healthline.com/health/how-to-clean-your-ears

5.Why using Q-tips in your ear can be harmful. (cited 07 Jun 2022). Available from: https://www.healthline.com/health/q-tip-ear


MPL/OGB/022/V/2022

108 views