Kenali Perbedaan Rinitis dan Sinusitis


Kita sering menganggap sepele gejala bersin-bersin, hidung terasa gatal yang disertai hidung meler atau tersumbat karena merasa bahwa hal tersebut hanya keluhan ringan. Namun, bila hal tersebut dibiarkan dapat semakin memburuk dan menyebabkan masalah pada hidung sehingga berakibat menganggu aktivitas dan produktivitas menurun.


Beberapa orang berpendapat, apabila kita sering mengalami gejala bersin-bersin maupun pilek, berarti menderita rinitis. Namun, ada juga yang mengatakan apabila gejala pilek tidak kunjung sembuh, maka menderita sinusitis (atau disebut juga rinosinusitis). Sebenarnya, apa perbedaan dari kedua penyakit tersebut?


Anatomi rongga hidung

Sebelum membahas lebih dalam tentang rinitis dan sinutitis, sebaiknya kita mengetahui sedikit gambaran anatomi hidung manusia seperti yang digambarkan pada gambar 1.




Gambar 1. Anatomi hidung manusia (diambil dari: Sataloff’s Comprehensive Textbook of Otolaryngology: Head and Neck Surgery: Rhinology/Allergy and Immunology - Vol. 2)




Gambar 2. Gambaran mukosa hidung (diambil dari: https://entokey.com/nasal-physiology/)



Pada anatomi hidung kita, rongga hidung kiri dan kanan dipisahkan oleh sekat yang dinamakan nasal septum. Rongga hidung dilapisi oleh selaput lendir yang terdiri berbagai macam sel antara lain sel epitel, sel goblet dan berbagai bentuk sel bersilia. Silia atau rambut getar ini bertugas untuk membantu membersihkan hidung. Sementara itu, sel goblet berperan untuk memproduksi mukus (lendir) yang berfungsi untuk menjaga agar rongga hidung tetap lembap dan agar sel-sel tidak terkena paparan langsung benda-benda asing. Pada saat terjadi infeksi atau peradangan, sel goblet akan memproduksi lendir dalam jumlah yang lebih banyak.


Pada struktur bagian dalam hidung terdapat suatu bagian yang dinamakan dengan paranasal sinus, atau bisa disebut saja dengan sinus. Pada kondisi normal, sinus merupakan rongga kosong yang berisikan udara dengan beberapa fungsi berikut:


  1. Sebagai ruang resonansi suara

  2. Pelindung atau buffer terhadap benturan yang mengenai wajah

  3. Untuk melembapkan udara pernapasan yang masuk dalam rongga hidung

  4. Untuk menyamakan suhu udara yang masuk dengan suhu tubuh manusia (heat insulation)


Terdapat empat buah rongga sinus yang letaknya berbeda-beda pada manusia, yaitu ethmoid sinus, frontal sinus, sphenoid sinus dan maxillary sinus, seperti yang dapat dilihat pada gambar 2.




Gambar 3. Lokasi berbagai rongga sinus pada manusia (diambil dari: www.uptodate.com)


Setelah kita memiliki gambaran mengenai anatomi rongga hidung manusia, sekarang kita bahas satu per satu tentang rinitis dan sinusitis, serta perbedaan keduanya.


Rinitis

Rinitis merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan adanya peradangan pada rongga hidung. Berdasarkan penyebabnya, rinitis terbagi menjadi rinitis alergi (dikenal juga dengan istilah hay fever) dan rinitis non-alergi atau disebut juga dengan rinitis vasomotor.


Rinitis alergi disebabkan oleh reaksi alergi terhadap berbagai macam pencetus (alergen) misalnya bulu hewan peliharaan, serbuk sari, debu, maupun asap rokok. Sedangkan rinitis non-alergi dapat disebabkan oleh obat-obatan, perubahan suhu, bakteri atau virus, hormon (pada wanita hamil yang mengalami rinitis) dan sebagian besar tidak diketahui penyebabnya. Meski rinitis alergi dan rinitis non-alergi memikili gejala yang sangat mirip, pada rinitis non-alergi jarang ditemukan adanya gejala pada mata dan tenggorokan.


Kasus rinitis yang tidak tertangani dengan baik dapat memburuk yang ditandai dengan produksi lendir berlebih dan kental yang dapat masuk dan mengisi rongga sinus. Pada kondisi normal, cairan lendir yang masuk ke dalam rongga sinus dapat dikeluarkan melalui saluran kecil yang menghubungkan antara rongga sinus dengan rongga hidung. Namun, apabila mukus terlalu kental maka akan lebih sulit dikeluarkan dan menetap dalam rongga sinus. Hal inilah yang dapat menjadi salah satu faktor yang memicu terjadinya sinusitis.


Sinusitis (rinosinusitis)

Sinusitis merupakan suatu peradangan pada rongga sinus yang terjadi akibat infeksi yang dapat disebabkan oleh virus maupun bakteri. Sinusitis dapat diklasifikasikan menjadi sinusitis akut (jangka pendek <12 minggu) dan sinusitis kronis (jangka panjang ≥12 minggu) berdasarkan kriteria terbaru dari European Position Paper on Rinosinusitis and Nasal Polyps 2020 (EPOS-2020).


Sinusitis akut biasanya terjadi setelah seseorang menderita ISPA (infeksi saluran pernafasan akut) akibat infeksi virus ataupun bakteri. Gejala sinusitis akan muncul dan meningkat setelah 5 hari dari awal infeksi atau gejala bertahan selama 10 hari tanpa ada perbaikan. Sementara sinusitis kronis pada umumnya dipicu karena terjadinya peradangan kronis, misalnya pada kasus asma bronkial.


Perbedaan gejala rinitis dan sinusitis


Tabel 1. Berbagai gejala rinitis alergi dan sinusitis


Rinitis dan sinusitis memiliki dua gejala yang sama, yaitu hidung berair dan hidung tersumbat. Pada rinitis alergi, lendir yang dikeluarkan biasanya berupa cairan yang bening. Perubahan warna menjadi kekuningan atau kehijauan pada ingus mengindikasikan mulai terjadi infeksi. Lain halnya pada sinusitis, lendir yang dihasilkan umumnya bersifat kental, keruh dan berwarna.


Berdasarkan pemaparan beberapa gejala tersebut, gambaran perbedaan kedua penyakit tersebut diharapkan menjadi lebih jelas. Namun untuk memastikan diagnosis dan mendapatkan penanganan yang tepat, sebaiknya pasien rinitis atau sinusitis tetap memeriksakan diri ke dokter apabila mengalami gejala yang tidak membaik dengan obat yang dijual bebas.


Terapi dan penanganan

Sama seperti berbagai penyakit yang lainnya, terapi dan penanganan pada rinitis maupun sinusitis terdiri dari dua hal, terapi secara farmakologis menggunakan obat-obatan maupun penanganan nonfarmakologis. Pada terapi farmakologis, obat-obatan digunakan berdasarkan resep dokter sesuai dengan diagnosis penyakit dan kondisi masing-masing pasien. Misalnya, pada pasien rinitis alergi dokter biasanya akan meresepkan obat-obatan antihistamin, pada pasien sinusitis akibat infeksi bakteri maka akan diresepkan antibiotik. Selain itu, dokter biasanya akan meresepkan obat-obatan simptomatis lain untuk mengurangi gejala.


Pendekatan yang lainnya adalah terapi nonfarmakologis yang disesuaikan dengan penyakit pasien. Pada rinitis alergi, hal utama yang harus selalu diupayakan adalah menghindari alergen atau bahan-bahan yang dapat menyebabkan alergi. Sedangkan pada sinusitis, terapi nonfarmakologis yang biasanya dilakukan adalah pembedahan untuk membersihkan lendir yang terperangkap di dalam rongga sinus. Selain itu, baik pada rinitis maupun sinusitis, pasien dapat melakukan cuci hidung atau irigasi nasal untuk memelihara kebersihan rongga hidung.


Referensi:

1. WHO. Allergic rhinitis and sinusitis. (cited, June 10, 2020). Available from: https://www.who.int/respiratory/other/Rhinitis_sinusitis/en/

2. Lockey RF, et al. The difference between rhinitis and sinusitis. (cited, June 10, 2020). Available from: https://www.allergytampa.com/2019/01/18/the-difference-between-rhinitis-and-sinusitis/

3. The Australasian Society of Clinical Immunology and Allergy (ASCIA). Sinusitis and allergy. (cited, June 10, 2020). Available from: https://www.allergy.org.au/patients/allergic-rhinitis-hay-fever-and-sinusitis/sinusitis-and-allergy

4. Scadding, G. K. Rhinitis and sinusitis. Journal Clinical Respiratory Medicine 2008; 409-23.

5. Dykewicz, M. S., and Hamilos, D. L. Rhinitis and sinusitis. Journal Allergy Clinical Immunology 2010;125(2):1-13.

6. Satloff RT (editor). Sataloff’s Comprehensive Textbook of Otolaryngology: Head and Neck Surgery: Rhinology/Allergy and Immunology - Vol. 2. Jaypee Brothers Medical Publishers, 2016, New Delhi – India.

7. Watkinson JC, Clarke RW (editors). Scott-Brown’s otorhinolaryngology head & neck surgery 8th ed. CRC Press, 2018, Florida – USA.

8. May JR, Dolen WK. Management of allergic rhinitis: a review for the community pharmacist. Clinical Therapeutics 2017; 39(12):2410-19.

9. Tran NP, et al. Management of rhinitis: allergic and non-allergic. Allergy Asthma Immunol Res. 2011 July;3(3):148-56.

10. Fokkens W.J., Lund V.J. , Hopkins C., Hellings P.W., Kern R., Reitsma S., et al. European Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal Polyps 2020 Rhinology. 2020 Suppl. 29: 1-464.

11. Scadding GK, et al. BSACI guideline for the diagnosis and management of allergic and non-allergic rhinitis (Revised Edition 2017; First edition 2007). Clin Exp Allergy. 2017;47:856–89.

12. Patel ZM, Wang PH. Uncomplicated acute sinusitis and rhinosinusitis in adults: treatment. (cited, June 11, 2020). Available from: https://www.uptodate.com/contents/uncomplicated-acute-sinusitis-and-rhinosinusitis-in-adults-treatment#H1205151

13. Mustafa M, et al. Acute and chronic rhinosinusitis, pathophysiology and treatment. International Journal of Pharmaceutical Science Invention 2015; 4(2):30-6.

14. Aring AM, Chan MM. Acute rhinosinusitis in adults. Am Fam Physician. 2011;83(9):1057-63.

15. Rabago D, Zgierska A. Saline irrigaiton for upper respiratory conditions. Am Fam Physician. 2009; 80(10): 1117–9.


MPL/OGB/021/V/2022

22 views