Mengenal Macam-macam Antibiotik



Salah satu golongan obat yang cukup dikenal oleh masyarakat luas adalah antibiotik. Antibiotik terdiri dari beragam jenis molekul obat yang secara umum digunakan untuk mengobati penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Antibiotik tidak dapat digunakan untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme lain seperti virus dan jamur.


Diagnosis penyakit infeksi dan penyebabnya hanya dapat dilakukan oleh dokter, mengingat banyak penyakit infeksi menunjukkan kemiripan gejala. Oleh karena itu, antibiotik hanya dapat diberikan dengan resep dokter dan tidak boleh dilakukan secara mandiri. Penggunaan antibiotik secara sembarangan berisiko menimbulkan permasalahan kesehatan yang serius di kemudian hari, seperti fenomena resistansi antibiotik atau munculnya jenis bakteri yang kebal terhadap pemberian antibiotik sehingga akan menyulitkan pengobatan.


Seperti yang sudah disebutkan pada artikel sebelumnya, antibiotik terdiri dari bermacam-macam jenis, masing-masing memiliki karakteristik tersendiri. Terdapat banyak faktor yang memengaruhi pertimbangan dokter dalam memilihkan antibiotik yang sesuai untuk setiap kasus, mulai dari faktor penyakit dan kuman penyebab, faktor pasien, dan faktor obat.


Tulisan ini akan membahas beberapa jenis klasifikasi antibiotik yang cukup sering digunakan dalam menangani beragam penyakit infeksi bakteri. Tujuan dari pembuatan tulisan ini adalah sekedar menambah wawasan mengenai jenis-jenis obat antibiotik, dan tidak diperuntukkan untuk dasar memperoleh dan/atau mempergunakan antibiotik tanpa pengawasan tenaga kesehatan. Berikut sebagian klasifikasi antibiotik yang perlu kita ketahui:


1. Penicillin

Contoh dari antibiotik golongan penicillin yang sering digunakan adalah amoxicillin, ampicillin, dan penicillin. Obat golongan penicillin memiliki struktur khas pada molekulnya yang dikenal dengan istilah cincin beta-lactam. Antibiotik golongan ini bekerja membunuh bakteri (bakterisidal) dengan cara menghambat pembentukan dinding sel bakteri.


2. Cephalosporin

Antibiotik golongan cephalosporin memiliki kesamaan dengan golongan penicillin, yakni memiliki struktur molekul dengan cincin beta-lactam, sehingga mekanisme kerjanya dalam mengeradikasi infeksi bakteri juga serupa. Cephalosporin lebih lanjut lagi dapat diklasifikasikan menjadi beberapa generasi, mulai dari generasi pertama hingga yang terbaru adalah cephalosporin generasi kelima. Setiap generasi memiliki karakteristik spektrum kerja yang berbeda, yang akan menjadi salah satu faktor pertimbangan dalam memilih obat golongan ini untuk digunakan dalam terapi. Contoh obat golongan cephalosporin adalah cefadroxil, cefixime, dan cefuroxime.


3. Aminoglycosides 

Antibiotik golongan aminoglycosides umumnya lebih banyak digunakan di rumah sakit untuk menangani infeksi bakteri yang serius, seperti septikemia. Aminoglycosides memiliki potensi efek samping yang serius, seperti gangguan pendengaran dan bersifat toksik pada organ ginjal, maka diperlukan pertimbangan dan pengawasan mendetail oleh dokter sebelum memberikan obat antibiotik golongan ini. Aminoglycosides bekerja dengan menghambat sintesis protein di dalam sel bakteri. Contoh obat golongan ini adalah tobramycin dan amikacin.


4. Tetracycline

Antibiotik golongan tetracycline (contoh: tetracycline dan doxycycline) merupakan golongan antibiotik yang bekerja dengan menghambat sintesis protein di dalam sel bakteri. Tetracycline saat ini cukup banyak digunakan untuk menangani infeksi bakteri pada kulit yang diduga disebabkan oleh infeksi bakteri, seperti acne.


5. Macrolides 

Macrolide merupakan jenis antibiotik yang banyak digunakan untuk menangani berbagai kasus infeksi saluran napas yang disebabkan oleh bakteri. Dalam banyak kasus, obat golongan ini juga dapat menjadi alternatif pada pasien yang memiliki alergi terhadap antibiotik golongan penicillin. Macrolides juga bekerja dengan cara menghambat sintesis protein bakteri. Contoh obat golongan macrolide adalah azithromycin dan clarithromycin.


6. Fluoroquinolone

Fluoroquinolone adalah antibiotik yang banyak digunakan untuk menangani infeksi bakteri seperti infeksi saluran napas dan infeksi saluran kemih. Seperti halnya pada golongan cephalosporin, fluoroquinolone juga digolongan menjadi beberapa generasi, masing-masing dengan karakteristik yang berbeda. Mekanisme aksi dari obat golongan fluoroquinolone adalah dengan mengganggu replikasi dan transkripsi DNA bakteri. Contoh obat golongan ini adalah ciprofloxacin, levofloxacin, dan moxifloxacin.


Selain keenam golongan antibiotik di atas, masih terdapat banyak golongan antibiotik lainnya yang dapat digunakan untuk menangani infeksi bakteri yang terjadi di komunitas maupun infeksi yang terjadi di rumah sakit (nosocomial). Antibiotik dapat diberikan melalui berbagai bentuk sediaan, seperti per oral/obat minum (tablet, kapsul, sirup), injeksi, infus, sediaan topikal (krim, salep), dan tetes mata. Dokter akan memilihkan jenis obat dan bentuk sediaan yang paling sesuai untuk jenis infeksi yang dialami oleh pasien. Masyarakat dalam turut serta mendukung upaya penggunaan antibiotik secara bijak dengan tidak menggunakan antibiotik selain berdasarkan resep dokter, dan tidak menyarankan terapi antibiotik yang pernah digunakan kepada orang lain, karena sekalipun gejala yang dialami mirip, bisa saja kuman penyebab dan kondisi medis seorang akan berbeda dengan orang lain. Jangan lupa untuk selalu melakukan upaya pencegahan infeksi dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat serta melakukan vaksinasi sesuai dengan rekomendasi usia.


Referensi:

1.NHS. Overview Antibiotik. Avalaible from: https://www.nhs.uk/conditions/antibiotics/

2.CDC. Antibiotic Resistance & Patient Safety Portal. Available from: https://arpsp.cdc.gov/resources/OAU-Antibiotic-Class-Definitions.pdf

3.CDC. Antibiotic Prescribing and Use. Available from:https://www.cdc.gov/antibiotic-use/about.html

4.MedlinePlus. Antibiotics. Available from: https://medlineplus.gov/antibiotics.html

5.RSC. Different Classes of Antibiotics - An Overview. Available from: https://edu.rsc.org/download?ac=14959 


MPL/OGB/024/X/2021

202 views