Apa Itu Antibiotik?


Antibiotik merupakan salah satu jenis obat yang kerap digunakan dalam menangani berbagai jenis penyakit infeksi yang terjadi di masyarakat. Akan tetapi, masih banyak masyarakat yang belum memahami apa itu antibiotik, bagaimana kerjanya, dan kapan obat ini diperlukan. Peran apoteker sungguh diandalkan untuk memberikan edukasi yang tepat mengenai penggunaan antibiotik agar dapat memberikan manfaat klinis yang diharapkan tanpa menimbulkan masalah yang tidak diinginkan. Oleh sebab itu, ada baiknya sebelum lebih jauh membahas mengenai antibiotik, kita menilik kembali mengenai definisi penyakit infeksi, jenis-jenis infeksi, dan prinsip dasar penggunaan antibiotik yang tentu akan bermanfaat untuk disampaikan sebagai materi edukasi pada masyarakat.


Penyakit infeksi

Penyakit infeksi adalah penyakit yang disebabkan oleh masuk dan berkembangnya organisme penyebab penyakit di dalam tubuh, seperti seperti bakteri, virus, jamur atau parasit. Gejala infeksi sangat beragam, mulai dari yang hampir tanpa gejala (silent infection), gejala ringan sampai dengan berat hingga mengancam jiwa. Tingkat keparahan penyakit infeksi dipengaruhi oleh banyak hal, antara lain jenis organisme penyebab, faktor host (seperti kondisi sistem imun), dan lain sebagainya. Berdasarkan organisme penyebabnya, penyakit infeksi dapat dibedakan menjadi:


1. Infeksi jamur

Terdapat banyak jenis spesies jamur, sebagian di antaranya hidup di alam, dan sebagian tergolong ke dalam jenis organisme yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia. Infeksi jamur dapat bersifat superfisial (terbatas pada lapisan kulit tertentu) atau bersifat sistemik (melibatkan organ dalam seperti paru dan otak). Contoh infeksi jamur superfisial adalah beragam penyakit kulit seperti panu dan kutu air, sementara contoh infeksi jamur sistemik adalah aspergillosis dan Cryptococcus infection. Sebagian infeksi jamur pada manusia bersifat oportunistik, yakni hanya terjadi pada orang yang memiliki gangguan kekebalan tubuh.


2. Infeksi parasit

Parasit adalah organisme yang mengandalkan inang (host) untuk dapat bertahan hidup. Sebagian jenis parasit berukuran cukup besar untuk dapat diamati dengan mata, ataupun berukuran mikroskopik seperti protozoa. Beberapa jenis penyakit yang disebabkan oleh infeksi parasit antara lain malaria, dan infeksi saluran cerna manusia yang disebabkan oleh berbagai jenis cacing.


3. Infeksi virus

Virus merupakan agen penginfeksi yang membawa materi genetik dan dapat bereplikasi dengan mengandalkan sel tubuh inang yang dimasukinya. Terdapat banyak sekali jenis virus, dan sebagian dapat menyebabkan berbagai penyakit pada manusia. Contoh penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus adalah demam berdarah, influenza, dan Covid-19.


4. Infeksi bakteri

Selain disebabkan oleh virus, jenis penyakit infeksi yang sering dialami oleh masyarakat adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Bakteri adalah sejenis organisme mikroskopik bersel tunggal yang sebagian jenisnya dapat menyebabkan penyakit pada berbagai organ di tubuh manusia, seperti infeksi saluran napas (contoh: pneumonia bakterial, tuberculosis), saluran cerna (contoh: gastroenteritis bakterial), infeksi saluran kemih, kulit, dan lain sebagainya.


Tidak Semua Jenis Infeksi Memerlukan Antibiotik


Walaupun terdapat beberapa jenis infeksi yang disebabkan oleh penyebab yang berbeda-beda, namun tidak semua jenis infeksi dapat diobati dengan penggunaan antibiotik. Antibiotik merupakan golongan obat yang bekerja dengan cara membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri yang masuk ke dalam tubuh, oleh sebab itu antibiotik diperuntukkan untuk menangani berbagai jenis infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Fakta inilah yang seringkali kurang dipahami dengan baik oleh masyarakat luas, sehingga kerap dijumpai penggunaan antibiotik yang tidak tepat. Padahal penggunaan antibiotik yang tidak bijaksana berpotensi menimbulkan permasalahan kesehatan baru yang lebih serius, seperti fenomena resistansi antibiotik, yakni berkurang atau hilangnya respons bakteri terhadap antibiotik. Resistansi antibiotik dapat mempersulit proses penyembuhan penyakit infeksi, meningkatkan risiko fatalitas dari infeksi, dan memperbesar biaya pengobatan.


Masyarakat luas juga perlu mendapatkan edukasi bahwa terapi antibiotik hanya dapat diberikan dengan resep dokter setelah sebelumnya dilakukan penilaian terhadap penyakit dan kondisi klinis pasien. Hal ini berguna untuk mencegah penggunaan antibiotik secara mandiri, mengingat gejala yang timbul pada beragam jenis penyakit infeksi seringkali tidak khas sehingga sulit membedakan kuman penyebabnya. Apabila seseorang mengalami gejala-gejala khas penyakit infeksi seperti demam dan gejala lain yang tidak membaik dengan obat-obatan yang diperuntukkan untuk meredakan gejala, maka pasien tersebut sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sehingga dokter dapat melakukan pemeriksaan yang diperlukan serta memberikan diagnosis dan rekomendasi terapi yang sesuai.


Bagaimana Cara Mencegah Penyakit Infeksi?


Sebagian penyakit infeksi bersifat menular, dan penularannya dapat terjadi antar manusia, maupun antara hewan dan manusia. Jalur penularan penyakit infeksi dapat terjadi melalui perantaraan udara (airborne), bahan konsumsi yang terkontaminasi (foodborne), melalui gigitan hewan atau melalui perantaraan vektor, kontak kulit atau kontak dengan selaput mukosa serta kontak dengan cairan tubuh seperti melalui hubungan seksual. Menerapkan pola hidup bersih dan sehat merupakan salah satu cara yang efektif untuk mencegah berbagai jenis penyakit infeksi. Selain itu, untuk mencegah beberapa infeksi yang sifatnya berbahaya (berisiko tinggi menyebabkan komplikasi berat, kematian, atau kecacatan) terdapat tindakan preventif yang efektif dan relatif aman, yaitu melakukan vaksinasi. Saat ini, tersedia beragam jenis vaksinasi untuk mencegah penyakit infeksi berbahaya, baik yang disebabkan oleh virus maupun bakteri, contoh: vaksin influenza, vaksin Covid-19, vaksin Varicella, dan lain sebagainya.


Bagaimana Panduan untuk Bijak Menggunakan Antibiotik?


Secara umum, telah dijelaskan bahwa antibiotik adalah obat yang digunakan untuk menangani infeksi yang disebabkan oleh bakteri dengan cara membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri yang masuk ke dalam tubuh. Pada beberapa kasus, antibiotik juga digunakan untuk pencegahan infeksi (profilaksis), namun hal ini hanya terbatas pada kasus tertentu seperti pencegahan infeksi pada seseorang yang akan menjalani prosedur pembedahan yang dirasa berisiko dan dilakukan sesuai dengan rekomendasi dokter yang merawat. Sangat tidak dianjurkan bagi masyarakat luas melakukan swamedikasi untuk mencegah maupun mengobati penyakit infeksi dengan mengonsumsi obat golongan antibiotik.


Antibiotik juga merupakan kelompok obat yang terdiri dari berbagai jenis molekul obat, masing-masing molekul memiliki kekhususan tersendiri yang dapat dinilai dari beragam aspek. Oleh karena itu, pemilihan antibiotik juga dapat berbeda-beda antara satu kasus dengan kasus yang lainnya, dengan mempertimbangkan beberapa faktor seperti jenis bakteri penyebab, sensitivitasnya terhadap obat, lokasi infeksi dan distribusi obat, kondisi klinis pasien (seperti fungsi ginjal, riwayat alergi obat), dan lain sebagainya. Beberapa contoh jenis obat antibiotik antara lain golongan penicillin (contoh: amoxicillin), cephalosporin (contoh: cefixime), fluoroquinolone (contoh: levofloxacin), dan metronidazole.

Untuk mendukung penggunaan antibiotik yang rasional, antibiotik umumnya diberikan untuk jenis kasus infeksi bakteri yang:


  • Tidak dapat dituntaskan tanpa menggunakan antibiotik

  • Dapat menyebar ataupun menular ke orang sekitar

  • Memiliki durasi pemulihan yang terlalu lama tanpa terapi pengobatan

  • Berpotensi menimbulkan komplikasi serius


Terapi antibiotik umumnya memerlukan durasi terapi tertentu yang bervariasi untuk setiap kasus. Hal ini bertujuan untuk mengoptimalkan upaya eradikasi bakteri yang menyebabkan infeksi, oleh karena itu penting untuk memberikan edukasi kepada pasien yang memperoleh resep antibiotik agar meminum obatnya dengan benar sesuai instruksi yang diberikan oleh dokter dan apoteker, seperti anjuran pemberian, diminum selama sekian hari, atau dihabiskan. Tidak sedikit pasien yang menghentikan konsumsi antibiotik saat dirasa gejala sudah tidak lagi mengganggu, padahal hal ini adalah salah satu faktor yang berkontribusi pada timbulnya fenomena resistansi antibiotik. Pemahaman mengenai potensi efek samping juga perlu diberikan agar pasien tidak sembarangan menghentikan pengobatan apabila dirasa terdapat efek samping yang menggangu, melainkan pasien diarahkan untuk lekas berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Sekian pembahasan singkat mengenai penyakit infeksi dan penggunaan antibiotik pada kasus infeksi bakteri. Masyarakat dan tenaga kesehatan diharapkan bekerja sama untuk memastikan penggunaan antibiotik secara bijak, sehingga obat ini dapat memberikan manfaat yang diinginkan dan tidak menimbulkan permasalahan lain di kemudian hari. Ingat selalu untuk melakukan beragam tindakan preventif untuk penyakit infeksi seperti menerapkan pola hidup bersih dan sehat serta melakukan vaksinasi sesuai rekomendasi usia dan faktor risiko yang dimiliki, karena mencegah selalu lebih baik daripada mengobati.



Referensi:


1. Mayo Clinic. Infectious diseases. Avalaible from: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/infectious-diseases/symptoms-causes/syc-20351173

2. Pusat Informasi Obat Nasional. Antibakteri. Avalaible from: http://pionas.pom.go.id/ioni/bab-5-infeksi/51-antibakteri

3. NHS. Antibiotics. Avalaible from: https://www.nhs.uk/conditions/antibiotics/

4. Medmate. Understanding Antibiotics vs Antivirals. Avalaible from: https://medmate.com.au/news/understanding-antibiotics-vs-antivirals/


MPL/OGB/021/IX/2021

116 views