7 Langkah Sederhana Mencegah ISPA di Lingkungan Padat dan Berpolusi
- 4 hari yang lalu
- 3 menit membaca

Hidup di lingkungan padat dengan lalu lintas yang ramai dan tingkat polusi udara yang tinggi membuat kita lebih rentan mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Menurut organisasi kesehatan dunia (World Health Organization/WHO), polusi udara membuat tubuh harus bekerja ekstra untuk menyaring udara dan melawan kuman penyebab infeksi sehingga dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi pada saluran pernapasan, termasuk ISPA.
Namun, Sobat Segitiga Merah tidak perlu khawatir karena kita bisa berusaha mencegah ISPA dengan langkah-langkah sederhana di lingkungan padat dan berpolusi.
Risiko Tinggi ISPA di Lingkungan Padat dan Berpolusi
Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) adalah penyakit infeksi yang menyerang saluran napas bagian atas maupun bagian bawah seperti hidung, tenggorokan, sampai paru-paru. Penyakit ini disebabkan oleh virus atau bakteri dan berpotensi menular lewat droplet saluran pernapasan yang keluar dari orang yang sedang sakit dan tersebar di udara.
Gejala yang sering muncul antara lain batuk, hidung tersumbat atau berair, sakit tenggorokan, demam, hingga sesak napas. Terdapat beberapa kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih terhadap risiko ISPA, yaitu anak-anak (khususnya di bawah usia 5 tahun), lanjut usia (di atas 60 tahun), penderita penyakit kronis, serta orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Lingkungan yang padat penduduk dan tingkat polusi udara yang tinggi membuat risiko terjangkit ISPA meningkat. Udara kotor yang dipenuhi debu dan asap kendaraan dapat mengiritasi saluran napas serta menurunkan daya tahan tubuh, sehingga kuman penyebab ISPA lebih mudah masuk dan berkembang.
Jarak antarindividu yang berdekatan di kawasan padat penduduk juga memperbesar peluang penularan dari satu orang ke orang lain. Ketika seseorang yang terinfeksi berbicara, batuk, atau bersin, droplet berisi virus dapat tersebar di udara dan menularkan penyakit ke orang-orang di sekitarnya.
Tanpa upaya pencegahan yang konsisten, rantai penularan ini dapat berlangsung cepat dan terus-menerus, sehingga berdampak pada produktivitas dan kualitas hidup.
7 Langkah Sederhana Mencegah ISPA
Sobat Segitiga Merah pasti sudah sering mendengar, mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Hal ini juga berlaku untuk penyakit ISPA yang sangat mudah menyebar di lingkungan padat dan berpolusi.
Kabar baiknya, banyak langkah sederhana yang dapat dilakukan setiap hari untuk menurunkan risiko ISPA. Beberapa di antaranya bahkan dimulai dari kebiasaan kecil di rumah.
Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat memberi dampak besar bagi kesehatan pernapasan. Dengan langkah-langkah sederhana, kita dapat melindungi diri dan orang di sekitar dari risiko penularan ISPA, beberapa di antaranya adalah:
Perbanyak minum air putih. Asupan cairan yang cukup membantu menjaga kelembapan saluran napas, sehingga mampu menyaring udara kotor dengan lebih baik.
Biasakan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Tangan sering menjadi media penularan virus, jadi pastikan kebersihannya sebelum makan atau menyentuh wajah.
Jaga daya tahan tubuh dengan pola hidup sehat. Konsumsi makanan bergizi, istirahat cukup, hindari stres berlebihan, dan jauhi asap rokok agar tubuh lebih kuat melawan infeksi.
Gunakan masker saat sedang tidak enak badan dan saat beraktivitas di tempat yang padat atau berpolusi. Masker membantu menyaring udara dari debu, asap kendaraan, serta kuman yang tersebar di udara. Jangan lupa untuk menerapkan etika batuk yang benar.
Batasi aktivitas di luar ruangan saat tingkat polusi udara sedang tinggi.
Jaga jarak dan hindari kontak langsung dengan orang yang sedang sakit.
Mandi setelah beraktivitas di luar rumah. Debu dan partikel polusi dapat menempel di pakaian atau permukaan benda. Mandi setelah bepergian dapat membantu menghilangkan partikel-partikel ini dan mengurangi risiko infeksi.
Dengan kebiasaan sederhana dan kepedulian terhadap kualitas udara di sekitar, kita sudah membantu melindungi diri sendiri dan orang lain dari risiko penyakit infeksi seperti ISPA.
Bila Sobat Segitiga Merah mulai merasakan gejala seperti batuk, demam, atau sesak napas yang tidak membaik dengan usaha pengobatan mandiri, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter, ya!
Referensi:
WHO. Ambient (outdoor) air pollution. Dapat diakses melalui: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/ambient-%28outdoor%29-air-quality-and-health
Kemenkes. Mengenali Gejala ISPA dan Tindakan yang Perlu Dilakukan. Dapat diakses melalui: https://ayosehat.kemkes.go.id/mengenali-gejala-ispa-dan-tindakan-yang-perlu-dilakukan
Islam, M., Islam, K., Dalal, K. et al. In-house environmental factors and childhood acute respiratory infections in under-five children: a hospital-based matched case-control study in Bangladesh. BMC Pediatr 24, 38 (2024). https://doi.org/10.1186/s12887-024-04525-4
Kemenkes. 8 Langkah Bijak Terhindar dari Bahaya ISPA Akibat Polusi Udara. Dapat diakses melalui: https://upk.kemkes.go.id/new/8-langkah-bijak-terhindar-dari-bahaya-ispa-akibat-polusi-udara



