Phenytoin Sodium Injeksi 50 mg/ml

Phenytoin digunakan untuk mengontrol status epileptikus dan epilepsi tonik-klonik (grand mal), serta untuk pencegahan dan pengobatan epilepsi yang terjadi selama atau setelah pembedahan saraf dan/atau cedera kepala berat. Phenytoin juga telah dilaporkan digunakan pada kasus migren, trigeminal neuralgia dan beberapa penyakit psikosis, aritmia jantung, intoksikasi digitalis dan pengobatan setelah infark miokard.

Gallery Produk Sistem Saraf-01.jpg
DAPATKAN DISINI

Jika tombol tidak bisa diklik, produk tidak tersedia untuk dibeli sendiri dan hanya tersedia di rumah sakit.

Komposisi

Tiap ml mengandung phenytoin sodium 50 mg


Indikasi

  • Phenytoin sodium diindikasikan untuk mengontrol status epileptikus dan epilepsi tonik-klonik (grand mal). Serta untuk pencegahan dan pengobatan epilepsi yang terjadi selama atau setelah pembedahan saraf dan/atau cedera kepala berat.

  • Phenytoin juga telah digunakan pada pengobatan migren, trigeminal neuralgia dan beberapa penyakit psikosis.

  • Phenytoin juga telah digunakan pada pengobatan aritmia jantung, intoksikasi digitalis dan pengobatan setelah infark miokard.


Kontraindikasi

  • Phenytoin sodium dikontraindikasikan pada pasien yang hipersensitif terhadap phenytoin sodium atau hydantoin lainnya.

  • Karena efeknya pada automatisitas ventrikel, phenytoin dikontraindikasikan pada pasien sinus bradikardia, sinoatrial blok, A-V blok tingkat kedua dan ketiga, dan pada pasien dengan sindrom Stokes-Adams.


Efek samping

  • Tubuh secara keseluruhan: reaksi anafilaktoid dan anafilaksis.

  • Sistem kardiovaskular: hipotensi pemah teramati.

  • Sistem saraf pusat: nistagmus, ataksia, ucapan tidak jelas, koordinasi menurun dan kebingungan. Pusing, insomnia, gugup sementara, kejang motorik, sakit kepala, parestesia, dan somnolence pernah dilaporkan. Diskinesia yang diinduksi phenytoin, terrmasuk chorea, distonia, tremor, asteriksis, pernah dilaporkan serupa dengan yang diinduksi oleh phenothiazine dan obat neuroleptik lainnya. Polineuropati perifer sensorik yang dominan telah diamati pada pasien yang menerima terapi phenytoin jangka panjang.

  • Sistem jaringan ikat: kulit wajah kasar, pembesaran bibir, hiperplasia gingiva, hipertrikosis, dan penyakit Peyronie.

  • Sistem saluran pencernaan: mual, muntah, konstipasi, hepatitis toksik dan kerusakan hati.

  • Sistem hematopoietik: trombositopenia, leukopenia, granulositopenia, agranulositosis dan pansitopenia dengan atau tanpa penekanan sumsum tulang. Makrositosis dan anemia megaloblastik juga pemah terjadi. Limfadenopati termasuk hiperplasia kelenjar getah bening jinak, pseudolimfoma, limfoma, dan penyakit Hodgkin pernah dilaporkan.

  • Sistem imunologi: sindrom hipersensitif, lupus eritematosus sistemik, periarteritis nodose, imunoglobulin yang abnormal, drug rash with eosinophilia and systemic symptom (DRESS).

  • Tempat injeksi: iritasi lokal, inflamasi, nyeri, nekrosis, kulit terkelupas telah dilaporkan dengan atau tanpa ekstravasasi dari phenytoin intravena. Edema, perubahan warna dan nyeri distal pada tempat injeksi (digambarkan sebagai "sindrom purple glove") pernah dilaporkan.

  • Sistem integumentari: manifestasi dermatologikal, kadang-kadang diikuti oleh demam, termasuk scarlatiniform atau ruam morbii. Ruam morbii (seperti campak) merupakan jenis paling umum; jenis dermatitis lainnya yang terihat lebih jarang. Bentuk lain yang lebih serius yang berekibat fatal termasuk bulous, eksfoliatif, dermatitis purpura, lupus eritematosus, sindrom Stevens-Johnson, dan toxic epidermal necrolysis.

  • Indera khusus: penyimpangan indera pengecap.


Dosis

Phenytoin parenteral dapat diberikan sebagai bolus intravena (IV) yang lambat atau dapat diberikan melalui infus IV.


Karena adanya risiko toksisitas lokal, phenytoin intravena harus diberikan secara langsung menuju vena perifer besar atau vena pusat melalui kateter berukuran besar. Sebelum pemberian, kateter IV harus diuji dengan bilasan satine steril. Setiap injeksi parenteral phenytoin harus diikuti dengan bilasan saline steril melalui kateter yang sama untuk menghindari iritasi pada vena lokal karena alkalinitas larutan.


Pemberian bolus
Phenytoin parenteral bolus harus diberikan dengan lambat, tidak melebihi 50 mg per menit pada orang dewasa, menuju vena besar melalui jarum berukuran besar atau kateter intravena. Setiap injeksi phenytoin intravena harus diawali dengan bilasan saline dan diikuti dengan injeksi seline dan diikuti dengan injeksi saline steril melalui jarum atau katater yang sama untuk menghindari iritasi pada vena lokal karena alkalinitas larutan.


Pemberian infus
Untuk pemberian melalui infus, phenytoin parenteral harus dilarutkan dalam 50-100 ml larutan saline dengan konsentrasi akhir larutan phenytoin tidak melebihi 10 mg/ml. Setelah campuran larutan siap, harus segera diberikan dan harus diselesaikan dalam waktu satu jam. Pemberian harus menggunakan in-line filter (0,22-0,50 mikron). Setiap injeksi phenytoin intravena harus didahului dengan bilasan saline dan kemudian diikuti dengan injeksi saline steril melalui jarum atau keteter intravena yang sama untuk membantu memngurangi iritasi oada vena lokal karena alkalinitas larutan.


Dosis tidak melebihi 50 mg/menit, secara intravena pada orang dewasa, dan tidak melebihi 1-3 mg/kg/menit pada neonatus dan anak-anak. Batas antara efek terapeutik dan dosis toksi minimal dari obat ini relatif kecil.


Pada situasi dimana pemberian intramuskuluar mungkin dibutuhkan (misal, setelah operasi pada pasien koma), dosis yang sesuai harus diberikan secara intramuskular untuk menjaga kadar serum dalam rentang terapeutik. Ketika dosisi oral dilanjutkan setelah penggunaan intramuskular (IM), dosis oral harus disesuaikan untuk menyeimbangkan abpsorpsi intramuskular yang lambat dan masih berlanjut untuk menghindari gejala toksik. Untuk menghindari akumulasi obat yang disebabkan oleh absorpsi dari penyimpanan di otot, pada minggu pertama saat kembali ke phenytoin oral, dosis oral dianjurkan untuk dikurangi menjadi setengah dari dosisi awal (1/3 dari dosis IM).


Status epileptikus
Untuk mengontrol status epileptikus pada pasien dewasa, dosis awal sebesar 10-15 mg/kg harus diberikan dengan perlahan-lahan secara intravena, pada kecepatan tidak melebihi 50 mg/menit (ini akan membutuhkan waktu sekitar 20 menit pada pasien dengan berat 70 kg). Dosis awal ini harus diikuti dengan dosis pemeliharaan sebesar 100 mg secara oral atau intravena setiap 6 sampai 8 jam.


Absorpsi phenytoin pada neonatus dan anak-anak tidak dapat dipastikan setelah pemberian oral. Dosis awal 15 - 20 mg/kg secara intravena biasanya akan memberikan konsentrasi plasma phenytoin dalam rentang terapeutik yang secara umum dapat diterima (10 - 20 mcg/ml). Obat ini harus diberikan secara intravena pada kecepatan tidak melebihi 1-3 mg/kg/menit.


Pemantauan terus menerus pada elektrokardiogram dan tekanan darah merupakan hal yang penting. Pasien harus diamati terhadap tanda depresi pernapasan. Penentuan kadar serum phenytoin dianjurkan ketika menggunakan phenytoin dalam pengobatan status epileptikus dan pada penentuan dosis pemeliharaan berikutnya.


Tindakan lainnya termasuk pemberian bersamaan benzodiazepine intravena seperti diazepam, atau barbiturate intravena aksi pendek, umumnya akan dibutuhkan untuk mengontrol kejang dengan cepat karena pada pemberian phenytoin memerlukan kecepatan yang lambat.


Jika pemberian phenytoin sodium tidak menghentikan serangan, dapat dipertimbangkan untuk memakai antikonvulsan lain (golongan barbiturate secara intravena, anestesi umum atau tindakan lainnya).


Pemberina intramuskular sebaikan tidak digunakan pada pengobatan status epiletikus karena untuk mencapai kadar serum puncak membutuhkan waktu 24 jam.


Bedah saraf
Dosis profilaksis 100 sampai 200 mg (2 sampai 4 ml) intramuskular dengan interval sekitar 4 jam selama operasi dan dilanjutkan selama periode pasca operasi. 


Ketika pemberian intramuskular dibutuhkan pada pasien yang sebelumnya stabil secara oral, diperlukan penyesuaian dosis untuk menjaga kadar serum terapeutik. Ketika pemberian intramuskular digunakan, obat harus diberikan melalui intramuskular dalam (deep IM). Dosisi intramuskular yang dibutuhkan 50% lebih besar dari dosisi oral untuk menjaga kadar tersebut. Ketika pasien kembali pada pemberian oral, dosis harus dikurangi sebanyak 50% dari dosis awal selama seminggu untuk mencegah kadar serum yang berlebihan disebabkan oleh pelepasan yang berkelanjutan dari jaringan intramuskular.


Jika pasien membutuhkan lebih dari satu minggu phenytoin IM, rute alternatif harus dipertimbangkan, seperti intubasi lambung. Untuk periode waktu kurang dari 1 minggu, pasien yang kembali dari pemberian IM harus menerima setengah dari dosis oral awal dengan periode waktu waktu yang sama dengan pasien menerima phenytoin IM. Pemantauan kadar serum dapat membantu untuk mencegah penurunan ke dalam rentang subterapeutik. Penentuan kadar serum obat akan sangat membantu jika terdapat kemungkinan interaksi obat.


Aritmia jantung
Dosis 3,5 sampai 5 mg/kg berat badan, dapat diulang satu kali jika dibutuhkan. Umumnya dosis harian total 700-1000 mg sudah mencukupi. Jika tidak ada reaksi yang bermakna pada kadar plasma 20 mg/ml, kecil kemungkinan pada kadar yang lebih tinggi akan berefek. Pemberian lambat 30-50 mg/menit lebih diutamakan.


Kemasan

Kotak, 10 ampul @ 2 ml


Golongan

Antiepilepsi


Perlu Resep

Ya


Cara Penyimpanan

Simpan pada suhu di bawah 25°C.