Terganggu karena Sembelit? Kenali Cara Mengatasinya


Pernahkah Anda mengalami kesulitan untuk buang air besar dengan lancar? Jika iya, bisa jadi saat itu Anda sedang mengalami sembelit. Sembelit adalah gejala gangguan pencernaan yang dapat dialami oleh siapa saja, mulai dari bayi hingga kelompok lanjut usia. Gangguan kesehatan yang juga sering disebut konstipasi ini adalah kondisi yang ditandai dengan frekuensi buang air besar kurang dari 3 kali dalam seminggu atau kesulitan dalam proses buang air besar dan sering menimbulkan sensasi perasaan tidak tuntas setelahnya.


Bagi mereka yang mengalami sembelit, gejala yang dialami seringkali menimbulkan rasa tidak nyaman. Pasalnya, sembelit juga sering disertai dengan gejala lain seperti sakit perut, kembung, mual, bahkan sakit kepala yang akhirnya dapat menyebabkan aktivitas menjadi terganggu.


Apa penyebab sembelit?


Masalah sembelit tidak bisa dipisahkan dengan proses pencernaan yang terjadi di usus besar kita. Seperti yang kita ketahui bersama, usus besar merupakan bagian akhir dari keseluruhan saluran cerna manusia. Secara umum, tugas dari usus besar adalah menyerap sebagian kandungan air dari sisa bahan makanan dan membentuk produk buangan dengan bantuan mikroorganisme saluran cerna sehingga terbentuklah kotoran (feses) yang siap dikeluarkan dari tubuh saat proses defekasi atau buang air besar (BAB). Struktur dinding usus besar tersusun salah satunya dari jaringan otot yang dapat berkontraksi untuk mendorong feses ke arah rektum (pangkal usus besar) untuk dikeluarkan melalui anus.


Sembelit dapat terjadi apabila seseorang mengalami gangguan kontraksi berupa perlambatan gerakan usus besar, yang mengakibatkan tingginya tingkat penyerapan cairan dari sisa bahan makanan sehingga kotoran yang terbentuk pun menjadi lebih kering, keras, dan sulit untuk dikeluarkan. Sembelit atau konstipasi dapat dibagi menjadi konstipasi primer atau fungsional akibat gangguan proses defekasi serta konstipasi sekunder yang disebabkan oleh suatu penyakit atau kondisi lain. Terdapat beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan seseorang lebih rentan mengalami sembelit, seperti usia (risiko konstipasi meningkat seiring bertambahnya usia), jenis kelamin (wanita lebih rentan mengalami konstipasi dibandingkan pria karena pengaruh fluktuasi hormon), dan kondisi medis berupa adanya penyakit, baik gangguan fisik maupun mental. Beberapa faktor risiko lain untuk terjadinya sembelit erat kaitannya dengan pola makan dan gaya hidup, seperti:

  1. Kurangnya asupan cairan dan serat dalam bahan makanan

  2. Rendahnya aktivitas fisik (jarang berolahraga)

  3. Tingkat stres yang tinggi

  4. Efek samping dari konsumsi obat tertentu.


Bagaimana cara agar terhindar dari sembelit?


Meskipun sebagian dari kasus sembelit umumnya akan sembuh sendiri, tetapi bukan berarti gangguan kesehatan ini dapat dipandang sepele. Ada beberapa tanda bahaya (alarm symptoms) di mana pasien sembelit harus segera berkonsultasi ke dokter. Tanda bahaya (alarm symptoms) tersebut berupa munculnya darah segar pada feses, riwayat penyakit saluran cerna dalam keluarga, penurunan berat badan (>5-10%), mual dan muntah persisten, adanya massa abdomen, demam, usia lanjut dan anemia defisiensi besi.


Terdapat juga sebagian kasus sembelit yang tidak teratasi dalam jangka waktu yang lama dan berulang (kronis). Kondisi ini dapat berdampak buruk bagi kualitas kesehatan serta menyebabkan penurunan kualitas hidup penderitanya. Sembelit juga diketahui sebagai salah satu faktor risiko terjadinya kanker usus besar (colorectal cancer). Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami dan menerapkan pola hidup yang sehat untuk membantu melancarkan proses pencernaan.


Berikut adalah beberapa tips yang dapat dilakukan agar terhindar dari masalah sembelit:


- Mengonsumsi makanan bergizi seimbang dan meningkatkan asupan serat

Serat makanan berperan penting dalam kelancaran proses pencernaan. Serat makanan dapat dibedakan menjadi serat larut air (soluble) dan tidak larut air (insoluble). Serat larut air relatif dapat memperlambat proses pencernaan, sehingga jenis serat ini kurang tepat untuk dikonsumsi dalam jumlah tinggi saat seseorang sedang mengalami sembelit. Sebaliknya, jenis serat tidak larut air memiliki struktur yang tidak berubah di dalam saluran pencernaan dan lebih baik dalam menahan kandungan air di dalam bahan makanan. Hal ini dapat membantu mempercepat waktu transit feses di saluran cerna, serta dapat membentuk massa dan volume (bulk) feses dengan lebih baik sehingga feses dapat dikeluarkan dengan lebih mudah. Dengan karakteristik ini, serat tidak larut menjadi pilihan yang lebih tepat untuk dapat dikonsumsi oleh seseorang yang sedang mengalami sembelit. Jenis bahan makanan yang tinggi kandungan serat tidak larut antara lain biji-bijian utuh (whole grain food) seperti gandum dan beras coklat, sereal, kacang-kacangan, dan berbagai jenis buah dan sayur lainnya. Walaupun kedua jenis serat ini memiliki dampak yang berbeda di saluran cerna, namun keduanya tetap diperlukan untuk menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan, termasuk dalam usaha mencegah terjadinya sembelit.


- Meningkatkan asupan cairan

Asupan cairan yang cukup dapat membantu melancarkan proses pencernaan sehingga dapat mempermudah buang air besar. Hindari mengonsumsi minuman yang mengandung alkohol secara berlebihan karena dapat menyebabkan dehidrasi dan meningkatkan risiko sembelit.


- Meningkatkan aktivitas fisik dengan rutin berolahraga

Pola hidup minim gerak (sedentary) merupakan salah satu penyebab terjadinya sembelit. Aktivitas fisik yang cukup dapat menstimulasi pergerakan otot, termasuk otot-otot pada saluran cerna, sehingga dapat mempercepat waktu transit feses pada saluran pencernaan dan mempermudah proses defekasi (BAB).


- Mengelola stres dengan baik

Salah satu penyebab sembelit adalah kondisi kesehatan mental seperti stres yang meningkat maupun adanya gangguan mental tertentu seperti depresi. Oleh karena itu, manajemen stres yang baik dapat membantu mengurangi risiko terjadinya sembelit.


Upaya lain yang dapat dilakukan adalah menghindari mengejan dan mengatur kebiasaan defekasi yang baik serta mengusahakan buang air setelah makan pagi atau waktu yang dianggap sesuai.


Bagaimana cara mengobati sembelit?


Apabila sudah melakukan tips seperti di atas, tetapi masih mengalami sembelit, maka proses BAB dapat dibantu dengan pemberian obat-obatan pencahar (laksatif). Obat golongan laksatif merupakan obat yang dapat membantu mengatasi konstipasi dengan cara memperbaiki motilitas saluran cerna maupun memodifikasi massa feses untuk memudahkan proses BAB.


Namun, perlu diingat bahwa penggunaan laksatif tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Terdapat beberapa jenis obat golongan laksatif yang boleh dibeli tanpa resep dokter, tetapi jika obat tersebut tidak mampu mengatasi sembelit yang terjadi atau sembelit kerap berulang, sebaiknya Anda berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter.


Terdapat beberapa jenis laksatif dengan karakteristik kerja yang berbeda. Pemilihan laksatif yang tepat dapat lebih efektif untuk membantu penderita sembelit agar terbebas dari masalah yang dialaminya. Secara garis besar, laksatif dapat dibagi menjadi lima jenis, yaitu:


1. Laksatif bulk-forming

Laksatif bulk-forming memiliki mekanisme kerja seperti serat alami, yaitu dengan menambah massa atau volume (bulk) feses. Seiring meningkatnya massa feses, pergerakan feses di usus besar pun menjadi lebih mudah dan cepat sehingga dapat memudahkan dan melancarkan proses BAB. Hal yang penting untuk dilakukan ketika mengonsumsi laksatif bulk-forming adalah meningkatkan asupan cairan agar dapat mempermudah pengeluaran feses dan mengurangi risiko terjadinya efek samping berupa kembung. Contoh dari laksatif bulk-forming adalah methylcellulose.


2. Laksatif lubrikan

Sesuai dengan namanya, laksatif lubrikan dapat melicinkan saluran pencernaan yang dilewati oleh feses dan mencegah terjadinya penyerapan air yang berlebihan sehingga feses dapat dikeluarkan dari dalam tubuh dengan lebih mudah. Pada umumnya laksatif lubrikan merupakan suatu mineral oil yang akan melapisi saluran pencernaan yang dilewati oleh feses.


3. Laksatif emolien (stool softener)

Laksatif emolien atau yang biasa disebut sebagai pelembut feses (stool softener) bekerja dengan cara melembutkan dan membasahi feses sehingga dapat mempermudah proses BAB. Dibandingkan dengan jenis laksatif lainnya, laksatif emolien memerlukan waktu yang lebih lama untuk dapat bekerja. Laksatif emolien seperti docusate relatif cocok diberikan untuk pasien yang sedang dalam proses pemulihan pascaoperasi, wanita setelah melahirkan, dan pasien sembelit dengan hemoroid (wasir).


4. Laksatif stimulan

Laksatif stimulan dinilai cocok diberikan pada pasien sembelit yang memerlukan defekasi (BAB) sesegera mungkin. Laksatif stimulan bekerja dengan menstimulasi otot-otot saluran pencernaan sehingga agar berkontraksi lebih cepat. Hal ini dapat mempercepat waktu transit feses di saluran pencernaan dan meningkatkan frekuensi buang air besar. Contoh dari laksatif stimulan adalah bisacodyl.


5. Laksatif osmotik

Laksatif osmotik bekerja dengan cara menarik air ke dalam usus dari jaringan di sekitarnya. Dengan meningkatnya kadar air, maka tekstur feses akan menjadi lebih lembut dan feses dapat dengan lebih mudah bergerak dalam saluran pencernaan untuk memperlancar proses defekasi. Penggunaan laksatif osmotik harus diimbangi dengan asupan air yang cukup untuk meningkatkan efikasi obat dan mencegah terjadinya efek samping berupa kembung. Salah satu contoh laksatif osmotik yang umum digunakan adalah lactulose. Lactulose merupakan suatu bentuk gula yang tidak diserap di dalam saluran pencernaan. Hal ini menyebabkan lactulose akan mengalami fermentasi (dimetabolisme oleh mikroflora usus) dan menghasilkan asam lemak yang dapat menarik air masuk ke dalam usus sehingga dapat melancarkan proses defekasi.


Masalah saluran cerna seperti sembelit kerap dianggap sepele, tetapi tidak ada salahnya untuk menaruh perhatian soal ini. Apalagi kondisi ini memang kerap menyebabkan aktivitas kita terganggu. Jangan lupa juga untuk menjaga pola makan Anda.


Referensi:


1. World Gastroenterology Organisation. Constipation: a global perspective. World Gastroenterology Organisation Global Guidelines 2010:1-13.

2. Roque MV, Bouras EP. Epidemiology and management of chronic constipation in elderly patients. Clinical Interventions in Aging 2015;10:919–30.

3. Cleveland Clinic. Constipation. 2019. (cited May 30, 2022). Available from: https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/4059-constipation

4. Khatri M. What Is constipation? 2020. (cited May 30, 2022). Available from: https://www.webmd.com/digestive-disorders/digestive-diseases-constipation

5. Felman A. What to know about constipation. 2019. (cited May 30, 2022). Available from: https://www.medicalnewstoday.com/

6. Sethi S. What you should know about constipation. 2019. (cited May 30, 2022). Available from: https://www.healthline.com/health/constipation

7. Felson S. Dietary fiber for constipation. 2020. (cited May 30, 2022). Available from: https://www.webmd.com/digestive-disorders/dietary-fiber-the-natural-solution-for-constipation

8. Huizen J. Soluble and insoluble fiber: What is the difference? 2017. (cited May 30, 2022). Available from: https://www.medicalnewstoday.com/articles/319176

9. Varney J. Dietary fibre series - insoluble fibre. 2016. (cited May 30, 2022). Available from: https://www.monashfodmap.com/blog/dietary-fibre-series-insoluble-fibre/

10. Pichardo G. Safely using laxatives for constipation. 2020. (cited May 30, 2022). Available from: https://www.webmd.com/digestive-disorders/laxatives-for-constipation-using-them-safely

11. NHS. Laxatives. 2019. (cited May 30, 2022). Available from: https://www.nhs.uk/conditions/laxatives/

12. Bolen, B. 2019. Osmotic laxatives for constipation. (cited May 30, 2022). Available from: https://www.verywellhealth.com/

13. Makmun D, et al. Konsensus nasional penatalaksanaan konstipasi di Indonesia (Revisi 2019). Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia 2019. Jakarta Pusat.


MPL/OGB/018/V/2022

32 views