Risiko Minum Obat Tanpa Pengawasan Dokter
- 16 menit yang lalu
- 3 menit membaca

Setelah menikmati libur hari raya ditemani beragam makanan bersantan, berlemak, atau minuman manis, sebagian orang merasa “panik” atau takut mengalami dampak kesehatan dari konsumsi beragam makanan tersebut. Sebagian orang berpikir untuk langsung minum obat “biar aman”, ada yang minum obat maag, bahkan ada juga yang berpikir untuk mencari obat kolesterol, gula darah, atau tekanan darah, padahal obat-obat tersebut termasuk golongan obat keras. Sekilas terlihat seperti langkah pencegahan, tapi apakah Sobat Segitiga Merah tahu bahwa hal ini berisiko?
Kenapa sih muncul rasa takut setelah makan makanan “enak”?
Siapa yang tidak suka makanan atau minuman yang rasanya enak? Apalagi jika dinikmati dalam momen-momen kebersamaan. Akan tetapi, makanan atau minuman yang enak sering kali memiliki citra sebagai “makanan jahat” dan “dituduh” sebagai penyebab beragam masalah kesehatan seperti hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi. Tidak mengherankan, muncul rasa takut setelah kita mengonsumsi makanan atau minuman tersebut.
Perlu kita pahami bersama bahwa makanan memang memengaruhi fungsi-fungsi tubuh, namun bukan satu-satunya faktor penentu kesehatan. Dalam istilah nutrisi, tidak ada makanan yang sepenuhnya "baik" atau sepenuhnya "jahat", karena selain jenis, dampak makanan terhadap tubuh juga dipengaruhi oleh jumlah (porsi) dan jadwalnya (frekuensi).
Dengan kata lain, bukan makanan atau minuman yang kita makan beberapa kali selama masa liburan yang menyenangkan yang menentukan kesehatan kita, melainkan pola makan yang kita jalani di luar masa liburan tersebut.
Selain pola makan, kebiasaan hidup seperti aktivitas fisik dan olahraga juga menentukan risiko kesehatan yang dapat terjadi pada tubuh kita. Dengan konsisten menjalani pola hidup sehat, risiko perkembangan penyakit-penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi juga dapat diturunkan.
Risiko yang Mengintai di Balik Minum Obat Tanpa Pengawasan Dokter
Banyak yang berpikir bahwa obat penyakit kronis seperti diabetes dan kolesterol tinggi berfungsi sebagai “penghapus” jejak-jejak makanan dan minuman yang kita anggap “jahat” bagi kesehatan.
Faktanya, secara umum obat-obat tersebut berfungsi untuk membantu tubuh mengatur fungsi metabolisme yang terganggu akibat berbagai faktor yang terjadi dalam jangka panjang. Oleh karena itu, obat penyakit kronis umumnya digunakan secara rutin pada mereka yang sudah terdiagnosis dengan penyakit tertentu berdasarkan resep dokter.
Minum obat tanpa indikasi yang jelas justru dapat menimbulkan masalah. Semua obat memiliki potensi efek samping. Obat diberikan jika dokter menilai manfaat terapi akan melebihi risiko yang mungkin timbul.
Beberapa kebiasaan yang sering terjadi di masyarakat berkaitan dengan penggunaan obat di antaranya:
Mengikuti obat orang lain
Banyak orang berpikir untuk menggunakan obat yang diresepkan untuk orang lain karena merasakan kemiripan gejala, padahal sekalipun mengalami penyakit yang sama, pemilihan obat idealnya dilakukan berdasarkan kondisi individual.[1]
Melakukan self-diagnose
Dengan mudahnya akses informasi di internet, banyak orang mencoba melakukan self-diagnose atau menerka penyakit yang diderita secara mandiri kemudian mencari obat yang dibacanya di internet. Diagnosis yang keliru akan membuat penanganan penyakit menjadi keliru juga dan berisiko menunda penanganan penyakit yang sebenarnya.[2]
Menggunakan obat dari resep lama
Sebagian orang enggan melakukan konsultasi rutin dengan dokter, terlebih jika merasa kondisi kesehatannya relatif stabil. Saat mengalami gejala, mereka menggunakan sisa obat lama yang pernah diresepkan oleh dokter.
Perlu diketahui bahwa tidak semua penyakit memiliki gejala yang dirasa mengganggu. Selain itu, kondisi seseorang yang mengalami penyakit kronis pun bisa berubah seiring waktu sehingga terapi harus disesuaikan. Inilah alasan mengapa terapi penyakit kronis memerlukan juga pemantauan berkala oleh dokter.[1]
Kesimpulan
Minum obat sebagai langkah “antisipasi” dan tanpa pengawasan dokter merupakan pemikiran yang keliru dan perlu dihindari karena dapat membahayakan kesehatan. Idealnya, kita memantau kondisi tubuh secara berkala sehingga penyakit-penyakit yang minim gejala bisa terdeteksi sejak dini.
Bagi mereka yang sudah terdiagnosis dengan penyakit kronis, obat harus diminum berdasarkan resep dan instruksi dokter, disertai pemantauan secara rutin. Sebagai upaya pencegahan, jangan lupa untuk terus melakukan kebiasaan hidup sehat untuk menurunkan risiko penyakit kronis.
Referesi
World Health Organization. Guidelines for the regulatory assessment of medicinal products for use in self-medication. Available from: https://apps.who.int/iris/handle/10665/66154
Bennadi D. Self-medication: A current challenge. J Basic Clin Pharm. 2014;5(1):19–23.



