Mengenal Skabies: Penyakit Kulit Akibat Kutu yang Membuat Liang di Dalam Kulit


Banyak dari kita pasti pernah mengalami gangguan pada kulit yang menimbulkan keluhan berupa rasa gatal. Rasa gatal memang salah satu gejala yang umum dijumpai pada berbagai gangguan kulit, dengan penyebab yang sangat beragam. Salah satu jenis penyakit kulit dengan keluhan rasa gatal yang sangat mengganggu akibat adanya parasit yang bersarang di dalam lapisan kulit yaitu penyakit skabies atau yang lebih dikenal secara luas di masyarakat dengan istilah kudis.


World Health Organization (WHO) memperkirakan jumlah penderita skabies di seluruh dunia mencapai 200 juta orang. Menurut data Kementerian Kesehatan RI, prevalensi skabies di Indonesia sudah mengalami penurunan dari tahun ke tahun, terlihat dari data prevalensi tahun 2008 sebesar 5,6-12,96% menjadi 3,9-6% pada tahun 2013. Walaupun terjadi tren penurunan prevalensi, namun dapat dikatakan bahwa Indonesia masih belum terbebas dari penyakit skabies yang juga merupakan salah satu jenis penyakit menular ini.


Apa itu skabies?

Skabies atau dikenal juga dengan istilah kudis, atau gudik dan budug di beberapa daerah, adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi parasit sejenis kutu yakni Sarcoptes scabiei varietas hominis. Infestasi menggambarkan keadaan di mana parasit tersebut tidak benar-benar masuk ke dalam tubuh (menginfeksi), melainkan membuat sarang berupa liang-liang atau terowongan di dalam lapisan kulit penderitanya. Skabies lebih banyak terjadi di negara berkembang, terutama di daerah beriklim tropis dan subtropis, seperti Afrika, Amerika Selatan, dan juga Indonesia.


Kutu penyebab skabies berukuran sangat kecil dan tak kasat mata, kutu betina berukuran 0,3-0,4 mm, sedangkan kutu jantan berukuran 0,15-0,2 mm. Kutu betina membuat liang seperti terowongan di bawah kulit dan meninggalkan 2-3 telur per hari di lokasi tersebut. Dalam rentang waktu 3 sampai 4 hari, telur akan menetas menjadi larva yang kemudian akan mulai bergerak ke lapisan terluar kulit, di mana larva tersebut akan mengalami maturasi (pematangan) menjadi kutu dewasa dalam waktu 10-14 hari dan menyebar ke area lain dari kulit individu tersebut atau individu lainnya. Gatal yang timbul pada skabies bukan berasal dari gigitan parasit seperti pada kasus gigitan serangga, namun merupakan reaksi serupa alergi dari tubuh host terhadap kutu, telur, dan kotoran dari parasit tersebut. Seekor kutu betina dapat hidup selama 1-2 bulan di dalam liangnya dan selama itu, kutu tersebut terus bertelur secara rutin di dalam terowongannya.


Skabies merupakan jenis penyakit kulit yang sangat mudah menular serta dapat diderita oleh semua kelompok usia. Penyakit ini dapat ditularkan melalui kontak langsung maupun kontak tidak langsung. Kontak langsung didapatkan melalui sentuhan kulit, misalnya berjabat tangan, tidur bersama, maupun berhubungan seksual dengan penderita yang mengalami skabies. Kontak tidak langsung umumnya lebih jarang terjadi, kecuali bila pasien menderita skabies berkrusta/skabies Norwegia (skabies di mana kutu membentuk koloni dengan jumlah kutu yang sangat banyak di lapisan kulit). Penularan melalui perantaraan benda dapat terjadi melalui penggunaan handuk, sprei, bantal, serta pakaian secara bergantian atau bersamaan. Tidak mengherankan jika penyakit ini banyak diderita oleh orang yang tinggal berkelompok, misalnya di asrama, pesantren, dan pemukiman padat penduduk.


Apa saja gejala dari skabies?

Skabies memiliki gejala utama berupa rasa gatal akibat infestasi parasit yang menggali liang di dalam lapisan kulit. Rasa gatal pada kasus skabies umumnya sangat intens sehingga penderita kesulitan menahan keinginan untuk menggaruk. Rasa gatal akan terasa semakin intens pada malam hari. Gejala skabies umumnya muncul setelah periode inkubasi dari parasit. Periode inkubasi skabies berkisar antara 3-6 minggu sejak pertama kali infestasi, namun pada kasus reinfestasi gejala dapat muncul dalam rentang 1-2 hari. Gejala dan tanda umumnya membaik dalam waktu kurang lebih 6 minggu.


Gejala dari skabies yang umumnya dikeluhkan dapat berupa:

1.Rasa gatal yang intens dan umumnya memburuk pada malam hari

2.Muncul ruam merah, dapat berupa bintik-bintik halus (beruntus) maupun papular seperti jerawat. Bagian tubuh yang sering ditemukan ruam pada kasus skabies antara lain: sela jari, pergelangan tangan, siku, ketiak, payudara, seputaran pinggang, area genital, dan bokong. Pada bayi dan anak kecil, ruam juga seringkali tampak di wajah serta telapak tangan dan kaki

3.Luka lecet dapat terjadi bila ruam tergaruk dan menyebabkan luka. Infeksi sekunder dapat timbul apabila luka terinfeksi bakteri yang sering terdapat di kulit seperti Staphylococcus aureus

4.Bekas galian/liang yang tipis dan tidak reguler, yang umumnya berbentuk luka atau benjolan pada kulit.


Bagaimana cara mengobati skabies?

Seseorang yang mengalami gejala yang mengarah pada skabies harus segera memeriksakan diri ke dokter untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat. Dokter akan memeriksa kondisi tubuh dan mengambil sampel dari kulit untuk menetapkan diagnosis. Bila positif mengalami skabies, dokter akan memberikan resep obat-obatan. Pada beberapa individu, skabies tidak menunjukkan gejala (asimtomatik), meskipun pada individu tersebut sudah terjadi infestasi kutu Sarcoptes scabiei. Meskipun demikian, seluruh anggota keluarga yang tinggal serumah dengan penderita harus tetap diobati untuk mencegah infestasi berulang.


Terapi utama untuk pengobatan skabies adalah pemberian obat topikal (dioleskan pada kulit). Beberapa agen topikal yang direkomendasikan untuk pengobatan skabies antara lain:


1. Permethrin 5%

Krim permethrin 5% banyak direkomendasikan sebagai lini pertama pengobatan skabies. Krim permethrin terbukti efektif dalam melawan kutu penyebab skabies karena mampu membunuh telur kutu maupun kutu dewasa dengan pemberian tunggal (satu kali). Selain itu, krim permethrin dapat digunakan pada bayi mulai usia 2 bulan atau lebih, anak-anak, maupun orang dewasa. Cara penggunaannya dengan diaplikasikan ke seluruh permukaan kulit dari kepala hingga kaki, terutama telinga, lipatan dekat bokong, dan area antara jari-jari tangan maupun kaki. Krim dioleskan pada malam hari dan dibersihkan setelah 8-12 jam pada saat mandi. Jika diperlukan, penggunaannya dapat diulang setelah satu minggu.


2. Crotamiton 10%

Crotamiton 10% merupakan agen topikal yang biasanya tersedia dalam bentuk sediaan krim atau lotion. Pemakaian diulang sampai 3 hari dan pada hari ke-8.


3. Sulphur praecipitatum 5-10%

Alternatif lain untuk obat topikal adalah krim atau salep yang mengandung sulphur praecipitatum 5-10%. Obat topikal ini digunakan selama 3 hari berturut-turut. Kelemahannya, sulphur precipitatum kurang efektif dalam membunuh telur kutu, selain itu, dalam penggunaanya perlu diwaspadai karena adanya kemungkinan terjadi reaksi alergi (dermatitis iritan).


4. Lindane 1%

Krim yang mengandung lindane 1% dioleskan pada kulit dan dibiarkan selama 8 jam. Cukup sekali pemakaian, dapat diulang bila belum sembuh setelah satu pekan. Tidak boleh digunakan pada bayi, anak kecil, dan ibu hamil.


5. Emulsi benzyl benzoate 10%

Selain obat topikal, bila perlu dokter mungkin juga akan meresepkan obat minum seperti golongan antihistamin (antialergi) untuk mengurangi rasa gatal, antiparasit, atau pun antibiotik apabila terjadi infeksi bakteri sering ditimbulkan oleh garukan. Dengan terapi yang memadai, seluruh gejala termasuk rasa gatal dapat membaik setelah 3 hari. Rasa gatal dan kemerahan masih dapat timbul setelah 4 minggu terapi, hal ini biasa dikenal sebagai “postscabietic itch”. Selama pengobatan skabies, disarankan untuk tidak membersihkan kulit secara berlebihan dengan sabun antiseptik karena dapat memicu iritasi kulit.

Beberapa tips berikut dapat dilakukan untuk mendukung keberhasilan pengobatan secara keseluruhan dan menghentikan penularan parasit penyebab skabies:


  • Cuci semua sprei, handuk, pakaian penderita dan keluarga menggunakan air panas untuk membantu membunuh kutu penyebab skabies dan kuman lain yang menempel, keringkan, kemudian setrika

  • Bersihkan sofa, tempat tidur, kasur, karpet, keset dan furnitur kain lainnya yang memungkinkan kutu dapat menempel

  • Untuk benda yang tidak dapat dicuci, masukkan ke dalam plastik yang tertutup dan letakkan pada tempat yang tidak mengganggu selama sekitar dua minggu. Kutu akan mati bila tidak mendapatkan makanan selama beberapa hari

  • Gunakan obat-obatan sesuai aturan dosis dan cara penggunaan yang diresepkan oleh dokter

  • Selain menggunakan obat-obatan, penderita juga harus melakukan perawatan lain dengan menjaga kebersihan diri sendiri dan lingkungan

  • Masyarakat yang hidup dalam kelompok padat seperti tinggal di asrama, pesantren, maupun perumahan padat penduduk perlu secara berkala membersihkan tempat tidur, menjemur kasur di bawah sinar matahari, mencuci peralatan tidur dan melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan rumah

  • Membiasakan diri untuk mandi dengan sabun mandi dua kali sehari, terutama setelah beraktivitas padat dan berkeringat

  • Hindari berbagai penggunaan barang pribadi seperti handuk.

Referensi:

1. World Health Organization. Scabies. (cited 17 Mar 2021). Available from: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/scabies.

2. Ridwan, et al. Hubungan pengetahuan, personal hygiene, dan kepadatan hunian dengan gejala penyakit skabies pada santri di pondok pesantren Darul Muklisin kota Kendari. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kesehatan masyarakat. 2017: vol.2/no.6.

3. CDC. Scabies. Available from: https://www.cdc.gov/parasites/scabies/index.html

4. Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia, Saat mengalami gatal-gatal, perhatikan gejalanya: ini yang terjadi pada penyakit skabies. (cited 18 Feb 2021). Available from: https://www.perdoski.id/article/detail/220-saat-mengalami-gatal-gatal-perhatikan-gejalanya-ini-yang-terjadi-pada-penyakit-skabies .

5. Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia, Panduan Praktik Klinis bagi Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin di Indonesia. 2017. Jakarta.


MPL/OGB/005/II/2022

82 views