Kenali Faktor Risiko Hipertensi Sejak Dini


Hipertensi adalah kondisi kronis yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah di atas nilai normal yang bersifat persisten atau menetap. Hipertensi merupakan salah satu penyakit dengan prevalensi yang tinggi di Indonesia, begitu pun di seluruh dunia. Sebagian besar pasien hipertensi umumnya tidak merasakan gejala yang bermakna sehingga mereka tidak menyadari kondisi medis yang dialami dan tidak mendapatkan terapi yang diperlukan.


Tanpa penanganan yang sesuai, kondisi hipertensi dapat membawa banyak konsekuensi buruk bagi kesehatan, mulai dari kerusakan pembuluh darah progresif, hingga meningkatkan risiko komplikasi serius yang mengancam jiwa seperti penyakit jantung koroner, serangan jantung, stroke, gagal ginjal, maupun komplikasi yang menurunkan kualitas hidup seperti retinopati dan disfungsi seksual.


Melihat besarnya dampak yang dapat ditimbulkan oleh hipertensi terhadap angka morbiditas dan mortalitas, maka hipertensi memerlukan perhatian besar, mulai dari pengenalan akan faktor risikonya, agar lebih banyak orang terhindar dari penyakit yang sering dijuluki sebagai the silent killer ini.


Meski sebagian besar hipertensi tidak diketahui penyebabnya dengan pasti, namun terdapat beberapa faktor risiko yang diketahui berkaitan erat dan memengaruhi peluang seseorang untuk mengalami hipertensi. Secara umum, faktor risiko hipertensi dapat dibedakan menjadi dua, yakni faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi seperti usia, jenis kelamin, dan faktor genetik (riwayat penyakit serupa dalam keluarga), serta faktor risiko yang dapat dimodifikasi, yaitu yang banyak berkenaan dengan gaya hidup seperti pola makan, aktivitas fisik, dan stres.


Berikut adalah penjelasan singkat dari sebagian faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi:


1. Usia


Pertambahan usia merupakan salah satu faktor risiko terjadinya hipertensi karena adanya perubahan struktural pembuluh darah dan pengaruh berbagai faktor yang dapat menyebabkan pembuluh darah lebih rentan mengalami penurunan elastisitas. Walaupun demikian, tidak menutup kemungkinan hipertensi juga dialami oleh kelompok berusia muda. Oleh karena itu, penting untuk melakukan pemeriksaan rutin tekanan darah, bukan hanya bagi mereka yang berusia lanjut, namun juga bagi mereka yang berusia muda, terlebih jika memiliki faktor risiko lain untuk menderita hipertensi.


2. Jenis kelamin


Tekanan darah juga dapat dipengaruhi oleh kerja berbagai hormon di dalam tubuh, hal inilah yang menjadi salah satu penyebab adanya perbedaan risiko hipertensi pada pria dan wanita. Perbedaan risiko hipertensi pada pria dan wanita dipengaruhi oleh rentang usia. Sebelum memasuki rentang dekade keenam, risiko hipertensi pada pria relatif lebih besar daripada wanita, namun memasuki periode menopause risiko hipertensi menjadi lebih besar pada wanita. Hal ini terjadi akibat pengaruh penurunan kadar hormon progesterone dan estrogen yang juga memengaruhi kinerja sistem kardiovaskular.


3. Faktor genetik


Hipertensi bukanlah suatu penyakit yang diturunkan (inherited), namun risikonya meningkat apabila terdapat riwayat penyakit yang serupa dalam keluarga, atau yang dikenal dengan istilah predisposisi genetik. Beberapa hasil penelusuran juga menjelaskan bahwa pada sebagian kasus hipertensi esensial didapati riwayat hipertensi dalam keluarga. Mereka yang memiliki riwayat hipertensi dalam keluarga sangat dianjurkan untuk menjalani gaya hidup sehat (heart-healthy lifestyle) dan melakukan pemeriksaan tekanan darah secara rutin sejak dini untuk memantau kondisi tekanan darah.


Selain beberapa faktor risiko di atas, terdapat juga faktor risiko hipertensi yang dapat dimodifikasi, sebagian besar terkait dengan gaya hidup. Memahami faktor-faktor risiko yang dapat dimodifikasi akan membantu kita mengatur strategi pencegahan berupa penerapan pola hidup yang baik dengan merubah kebiasaan dan perilaku tertentu untuk risiko mencegah peningkatan tekanan darah. Beberapa faktor risiko hipertensi yang dapat dimodifikasi antara lain:


  • Kelebihan berat badan dan obesitas (indeks massa tubuh dan lingkar pinggang di atas normal)

  • Pola hidup minim gerak (sedentary)

  • Pola makan yang buruk (tinggi lemak dan karbohidrat, garam berlebih, dsb.)

  • Kebiasaan merokok dan alkoholik

  • Tingkat stres psikis yang tinggi


Berikut adalah beberapa tips pola hidup sehat yang dapat dilakukan agar terhindar dari penyakit hipertensi:


1. Membatasi konsumsi garam


Konsumsi garam (natrium) dalam jumlah berlebih dapat berdampak pada peningkatan tekanan darah. Membatasi asupan garam (natrium) dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya peningkatan tekanan darah, terutama bagi mereka yang telah terdiagnosis dengan hipertensi. Perlu diingat bahwa total asupan garam bukan hanya berasal dari garam yang ditambahkan ke dalam masakan, namun juga garam yang terkandung dalam berbagai produk pangan, seperti saus, makanan berpengawet, dan lain sebagainya. Batasan asupan garam berdasarkan pedoman Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH) adalah 2.300 mg per hari atau setara dengan ½ sendok teh garam.


2. Pola makan bergizi seimbang


Salah satu upaya untuk menjaga kondisi kesehatan adalah dengan memperhatikan pola makan sehari-hari. Pola makan yang baik mencakup perhitungan kebutuhan kalori yang disertai pertimbangan pemilihan bahan pangan dengan komposisi nutrisi yang seimbang. Selain membantu memelihara berat badan yang ideal, pengaturan jumlah kalori yang masuk disertai dengan pemilihan jenis dan jadwal yang tepat juga akan membantu menghindarkan seseorang dari peningkatan risiko hipertensi. Salah satu panduan pengaturan pola makan yaitu Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH) dapat dianjurkan bagi mereka yang memiliki risiko tinggi penyakit hipertensi. Metode ini merupakan salah satu pendekatan pengaturan pola makan yang direkomendasikan bagi pasien hipertensi untuk membantu memelihara tekanan darah mereka.


3. Menjaga berat badan ideal


Kelebihan berat badan (overweight) dan kegemukan (obesitas) merupakan faktor risiko terjadinya hipertensi. Berdasarkan Riset Data Kesehatan (Riskesdas) 2018, prevalensi overweight dan obese pada kelompok usia >18 tahun di Indonesia yakni sebesar 13,6% dan 21,8%. Hal ini menunjukkan proporsi masyarakat yang rentan mengalami hipertensi karena berat badan yang berlebih tergolong cukup tinggi. Oleh sebab itu, penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga berat badan ideal, yang dapat diukur dari Indeks Massa Tubuh (IMT). Adapun rentang IMT ideal yang dianjurkan umumnya berkisar antara 18,5–24,9 kg/m2. Selain itu parameter lain yang perlu diperhatikan adalah lingkar pinggang, karena merupakan indikator yang digunakan untuk menilai kondisi obesitas sentral. Ukuran lingkar pinggang yang disarankan untuk populasi dewasa Asia adalah <90 cm untuk laki-laki dan <80 cm untuk perempuan.


4. Olahraga teratur


Meningkatkan aktivitas fisik dengan berolahraga secara teratur dapat membantu seseorang untuk terhindar dari hipertensi, karena olahraga dapat membantu memelihara kesehatan jantung dan pembuluh darah. Aktivitas fisik yang disarankan adalah latihan aerobik dinamik berintensitas sedang seperti berjalan, jogging, bersepeda, atau berenang dan dilakukan setidaknya 150 menit per minggu. Apabila dirasa perlu, jenis dan intensitas olahraga juga dapat disesuaikan secara individual melalui konsultasi dengan dokter.


5. Jangan merokok


Telah lama diketahui bahwa perilaku merokok adalah faktor risiko yang menyebabkan timbulnya berbagai masalah kesehatan, mulai dari gangguan sistem pernapasan hingga masalah serius lainnya seperti serangan jantung dan stroke. Berbagai substansi berbahaya yang terkandung dalam rokok bertanggung jawab pada terjadinya kerusakan sel, jaringan, dan organ di dalam tubuh. Oleh karena itu, penting untuk menghindari paparan asap rokok, baik secara aktif maupun pasif, agar terhindar dari dampak buruk yang dapat ditimbulkannya.


6. Beristirahat cukup dan mengelola stres


Tidur merupakan aktivitas yang dapat berpengaruh langsung baik terhadap kondisi kesehatan fisik maupun mental seseorang secara menyeluruh. Kurangnya waktu tidur diketahui memiliki dampak buruk bagi kesehatan fisik dan mental seseorang. Oleh sebab itu, penting untuk selalu mencukupi kebutuhan tidur yang cukup, baik secara kuantitas maupun kualitas. Selain tidur yang cukup, manajemen stres yang baik juga diperlukan agar terhindar dari dampak buruk yang timbul akibat stres yang berkepanjangan.


Demikian informasi seputar berbagai faktor risiko hipertensi. Beberapa di antaranya mungkin belum dipahami oleh masyarakat luas sehingga sangat penting untuk memberikan edukasi yang memadai bagi seluruh lapisan masyarakat. Selain itu, peran dari tenaga kesehatan, khususnya apoteker, sangat diperlukan untuk lebih proaktif dalam menggali dan memberikan informasi kepada pasien mengenai faktor risiko penyakit hipertensi, bagaimana cara mengelolanya, dan yang tidak kalah penting adalah mengingatkan perlunya pemeriksaan tekanan darah secara rutin. Kerjasama antara masyarakat dan tenaga kesehatan dalam pengelolaan dan pencegahan diharapkan mampu menekan angka kejadian hipertensi berikut komplikasinya, sehingga masyarakat pun memiliki kualitas hidup yang lebih baik.


Referensi:

1.High Blood Pressure (hypertension). Available from: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/high-blood-pressure/symptoms-causes/syc-20373410

2.Know Your Risk for High Blood Pressure. Available from: https://www.cdc.gov/bloodpressure/risk_factors.htm

3.Prevent High Blood Pressure. Available from: https://www.cdc.gov/bloodpressure/prevent.htm

4.Faktor Risiko Hipertensi. Available from: http://p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/hipertensi-penyakit-jantung-dan-pembuluh-darah/faktor-risiko-hipertensi

Risk Factor for Hypertension. Available from: https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/majority/article/viewFile/602/606

6.Konsensus Penatalaksanaan Hipertensi 2019. Available from: http://faber.inash.or.id/upload/pdf/article_Update_konsensus_201939.pdf


MPL/OGB/015/VII/2021

118 views