Gejala dan Penyebab Hipertensi



Hipertensi atau penyakit tekanan darah tinggi kerap dijuluki sebagai “the silent killer” atau pembunuh senyap. Pasalnya, pasien hipertensi umumnya tidak merasakan gejala yang bermakna hingga akhirnya timbul komplikasi berupa kerusakan organ target. ‘The silent nature of hypertension’ juga merupakan sumber tantangan yang harus dihadapi untuk mencapai keberhasilan pengobatan.


Mengutip dari data hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas, 2018), total prevalensi hipertensi nasional yang diperoleh berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah pada sampel penduduk ≥18 tahun yakni sebesar 34,1%. Akan tetapi, data pasien hipertensi pada populasi yang sama, yang diperoleh dari hasil survei terkait adanya riwayat diagnosis maupun pengobatan dengan antihipertensi hanya mendapati prevalensi sebesar 8,8%. Dari 8,8% pasien hipertensi tersebut, hanya setengahnya (54,4%) yang mengaku rutin meminum obat, 13,3% pasien bahkan tidak meminum obat sama sekali dan 32,3% lainnya meminum obat walaupun tidak rutin. Beberapa hal penting yang dapat digambarkan oleh data tersebut antara lain tingginya proporsi pasien hipertensi yang tidak menyadari dirinya mengidap penyakit hipertensi, baik karena tidak merasakan gejala yang mengganggu, maupun belum menyadari pentingnya pengukuran tekanan darah secara rutin.


Selain itu, tingginya jumlah pasien hipertensi yang belum meminum obat atau meminum obat namun tidak rutin, perlu menjadi perhatian para tenaga kesehatan karena kondisi hipertensi yang tidak terkontrol dengan baik tentu berisiko mendatangkan berbagai konsekuensi kesehatan di kemudian hari.


Walaupun terkenal dengan julukannya sebagai pembunuh senyap, sebagian pasien hipertensi bisa jadi merasakan keluhan atau gejala, yang pada umumnya bersifat nonspesifik dan tidak dapat dijadikan landasan utama untuk menetapkan diagnosis hipertensi pada seseorang. Beberapa gejala yang kerap dilaporkan pada pasien yang mengalami peningkatan tekanan darah antara lain sakit kepala, epistaksis (mimisan), irama jantung tidak teratur (aritmia), penglihatan kabur, dan telinga berdenging.


Pada kondisi kenaikan tekanan darah yang sangat tinggi, mungkin juga timbul gejala lain seperti rasa lelah, mual, muntah, perasaan cemas, nyeri dada, dan tremor otot. Karena gejala-gejala yang relatif tidak khas itulah, satu-satunya cara yang efektif untuk menegakkan diagnosis hipertensi adalah dengan melalui pemeriksaan tekanan darah yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dengan menggunakan alat pengukur tekanan darah yang valid hasilnya.


Bila penyakit hipertensi tidak terdeteksi dan tidak ditangani dengan tepat, maka dalam jangka panjang dapat timbul komplikasi yang berpotensi mengancam jiwa, seperti serangan jantung, stroke, dan kerusakan organ target yang fatal.


Penyebab Hipertensi


Berdasarkan penyebabnya, hipertensi terbagi menjadi dua, yakni hipertensi primer dan sekunder.


1. Hipertensi Primer


Hipertensi primer atau disebut juga dengan hipertensi esensial merupakan hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya. Sebagian besar pasien hipertensi umumnya menderita jenis hipertensi primer. Progresivitas jenis hipertensi primer juga cenderung terjadi secara bertahap dan berkembang secara menahun.


2. Hipertensi Sekunder


Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang telah diketahui penyebabnya. Adapun beberapa kondisi yang dapat menyebabkan hipertensi sekunder, termasuk:


  • Gangguan ginjal

  • Gangguan pernapasan saat tidur (obstructive sleep apnea)

  • Tumor pada kelenjar adrenal

  • Gangguan kelenjar tiroid

  • Kelainan pada pembuluh darah

  • Konsumsi jenis obat tertentu atau obat-obatan terlarang.


Dari penjelasan di atas, tampak bahwa banyak kasus hipertensi yang tidak terdeteksi karena tidak adanya gejala dan kurangnya kesadaran akan perlunya pemeriksaan tekanan darah secara rutin. Gejala hipertensi sangat tidak khas dan dapat bervariasi antar individu, maka tidak perlu menunggu adanya gejala untuk melakukan pemeriksaan tekanan darah secara berkala, terutama pada mereka yang berisiko tinggi mengalami hipertensi. Pemeriksaan rutin akan membantu mendeteksi masalah kesehatan sejak dini dan penanganan pun dapat segera dilakukan untuk mencegah berbagai kemungkinan komplikasi.


Referensi:

1.High Blood Pressure Symptoms Causes. Available online from: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/high-blood-pressure/symptoms-causes/syc-20373410

2.Hypertension. Available online from: https://www.who.int/health-topics/hypertension/#tab=tab_2

3.Laporan Nasional RISKESDAS 2018. Available from: http://labdata.litbang.kemkes.go.id/images/download/laporan/RKD/2018/Laporan_Nasional_RKD2018_FINAL.pdf


MPL/OGB/014/VII/2021

116 views